Pentingnya Membangun Ikatan Akidah dalam Keluarga

Oleh: Yuli Kusumadewi Anshory

MuslimahNews.com — Sesungguhnya, ikatan di antara manusia yang paling kuat itu bukanlah ikatan yang dibangun atas nasab. Apalagi ikatan yang dibangun di atas maslahat dan lainnya. Ikatan yang hakiki, merekatkuatkan satu manusia dengan manusia lain tiada lain adalah ikatan akidah. Di mana satu orang dengan orang lainnya, memiliki pemikiran, perasaan dan kecenderungan ingin diatur oleh aturan yang sama. Ikatan inilah yang akan mengantarkan kepada ikatan yang hakiki dan abadi. Tentu saja, mendatangkan rida Allah SWT.

Begitu banyak kita saksikan, sebuah keluarga besar yang diikat oleh ikatan nasab, dekat secara fisik, kumpul sana kumpul sini, tapi hati mereka terpecah. Kadang, persoalan kecil menjadi kerikil yang menghantam keharmonisan dan kesakinahan sebuah keluarga. Perbedaan jawuul iman, suasana ruhiyah, mindset hidup, pandangan tentang dunia, obsesi ukhrawi, tak jarang membuat hubungan rahim yang sedianya terjalin baik, menjadi retak bahkan porak poranda. Ah, sedih rasanya saat menyaksikan, bagaimana rapuhnya sebuah keluarga besar, hanya karena urusan harta atau materi semata.

Pernah menyaksikan, ada sebuah keluarga yang pecah silaturahim gara-gara harta waris? Atau gara-gara persoalan-persoalan “kecil” yang menjadi “bara api permusuhan”? Perbedaan mindset, misal. Itu hanya contoh kecil saja. Masih banyak kita bisa temukan di lapangan, betapa ikatan nasab, lahir dari rahim yang sama, dibesarkan oleh asuhan yang sama, tak menjamin hidup sebuah keluarga aman tentrem loh jinawi. Jika semuanya tak menyandarkan kepada tuntunan yang sama : Alquran dan Assunnah. Tuntunan wahyu. Tuntunan yang berasal dari Dzat Yang Maha Pengatur dan Maha Mengetahui kebutuhan manusia.

Perbedaan memang sebuah keniscayaan. Tapi tidak dalam hal sikap seorang Muslim sebagai ‘Aabiid (hamba Allah SWT). Sebagai Muslim, sedianya semua hamba Allah harus memiliki sikap yang sama: Mengesakan-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maksimal dalam taat, dan menyandarkan baik buruk, terpuji tercela menurut pandangan-Nya. Bukan seenak dirinya.

Maka, beruntunglah jika anggota keluarga kita memiliki frekuensi yang sama tentang mindset hidup, tentang akidah, tentang untuk apa dia hidup karena ia yakin pasti akan kembali semuanya keharibaan-Nya untuk mempertanggungjawabkan semua amalnya.[]

%d blogger menyukai ini: