Ramadan Beranjak Pergi, Idul Fitri Momentum Raih Kemenangan Hakiki

*Takwa jangan cuma jargon

MuslimahNews, EDITORIAL — Tak terasa saat ini kita sudah berada di hari-hari penghujung bulan suci Ramadan. Biasanya, di saat seperti ini rasa gembira dan sedih bersatu membuncah ruah dalam diri setiap orang yang beriman.

Gembira, karena akan bertemu dengan hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang menjalani ketaatan. Sedih, karena tak lama lagi, kita akan meninggalkan bulan yang begitu sarat kemuliaan dan pujian.

Tapi di tiap penghujung Ramadan, kita telah terbiasa melihat banyak ironi. Mesjid dan musala sedikit demi sedikit kembali beranjak sepi. Sementara mal-mal penuh sesak dengan orang yang bergembira hendak berpisah dengan Ramadan. Dan di 10 hari terakhir yang seharusnya menjadi puncak aktivitas Ramadan, sebagian besar umat Islam justru larut dalam aktivitas tak bermakna apa-apa.

Ironi akan lebih nampak lagi saat tiba Idul Fitri. Idul Fitri yang sejatinya kembali pada fitrah keimanan, dimaknai dengan kembali pada kebebasan. Idul Fitri yang sejatinya saat untuk memulai pertaubatan, dimaknai sebagai lampu hijau untuk kembali melakukan kemaksiatan

Perubahan positif dan suasana religi yang terjadi di bulan Ramadan ini, ternyata berlangsung hanya sesaat saja. Sementara pasca Ramadan, semuanya kembali pada kebiasaan lama, pada habits semula.

Aurat yang tertutup saat bulan Ramadan, kembali terbuka lebar nyaris telanjang. Tayangan-tayangan media yang bernuansa religi pun kembali sarat pornografi dan kesia-siaan. Tempat-tempat hiburan yang pada saat Ramadan ditutup, kembali terbuka dan ramai dikunjungi banyak orang.

Tak ayal, jika Ramadan demi Ramadan hanyalah dijadikan sebagai bulan skorsing maksiat sementara. Karena masyarakat kita, kadung beriman pada akidah sekularisme yang meminggirkan peran agama.

Di masyarakat seperti ini, agama hanya boleh eksis saat Ramadan saja. Sementara di luar Ramadan, hawa nafsu dan akal manusialah yang menjadi kendalinya. Dan meski sejatinya Ramadan adalah jalan menuju takwa, namun semua itu hanyalah jargon semata.

Inilah Ironi Ramadan dan Idul Fitri di negeri sekuleris kapitalis. Negeri yang hanya berbasa-basi menghormati bulan suci, namun membiarkan 11 bulan lainnya terkotori. Negeri yang mengaku berketuhanan, namun menjadikan hukum Allah sebagai permainan dan olok-olokan.

Terlebih jika kita melihat kondisi umat lebih dalam dan lebih luas. Ramadan ke Ramadan nampaknya tak membawa perbaikan apapun bagi umat Islam. Umat tetap berkubang dalam dosa karena hidup tanpa aturan Islam.

Di negeri ini, bahkan sebagian dari mereka termasuk para penguasa sekular dan kroninya tak sungkan-sungkan memosisikan diri sebagai musuh Islam dan umatnya. Menuding ajaran Islam sebagai biang teror dan perpecahan. Lalu memfitnah para pendakwahnya dan orang-orang yang ingin hidup dengannya sebagai radikalis yang layak dikriminalisasi dengan memberlakukan undang-undang represif anti Islam. Sementara di luar sana, betapa banyak umat Islam yg menjalani Ramadan dan Idul Fitri dalam teror berkepanjangan. Terusir, terhina dan terjajah.

Sungguh kita butuh institusi penjaga, agar Ramadan ke Ramadan bisa benar-benar menjadi jalan mewujudkan ketakwaan. Terlebih sejatinya Ramadan adalah bulan perjuangan dan bulan mengokohkan ketaatan. Sementara Idul Fitri adalah momentum merayakan kemenangan perjuangan umat Islam melawan kekufuran.

Penjaga itu, tidak lain adalah Khilafah. Yakni, institusi politik yang pemimpinnya siap menjadikan Allah dan RasulNya sebagai penuntun. Pemimpin yang siap menerapkan hukum-hukum Allah secara kafah dalam kehidupan nyata. Yang dengan semua hukum itu, fitrah kemanusiaan sebagai hamba Allah tetap terjaga. Dan umat bahkan dunia inipun akan terhindar dari kehinaan, kerusakan, segala fitnah dan bencana.

Umat harus bersatu, menyamakan persepsi dan tujuan pergerakan menuju arah yang ditetapkan Allah dan Rasul. Intelektual, penguasa, militer, ulama, umat, seluruh komponen membentuk simpul dukungan yang kuat terhadap penerapan hukum Allah. Melanjutkan kehidupan Islam dengan aktivitas dakwah menyeru manusia kepada kemuliaan Islam, dan menyongsong kemenangan hakiki hidup dalam naungan institusi Islam yang menyejahterakan. Ini harus jadi cita-cita bersama yang lahir dari ketakwaan setelah digembleng sebulan penuh pada bulan Ramadan, jadi takwa bukan sekadar jargon belaka, dia berwujud nyata dalam amal perbuatan dan keyakinan penuh untuk menyambut kemenangan Islam dalam Khilafah.

Semoga Allah SWT berkenan memberi umat ini kemenangan yang sebenarnya dalam waktu yang tak lama. Mengangkatnya dari kehinaan, menjadi kembali mulia.

Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H, mohon maaf lahir dan batin.[]MNews

%d blogger menyukai ini: