Homeschooling dan Islamofobia

oleh: EL Fitrianty (Penulis buku anak/ pemerhati perempuan, keluarga dan generasi)

MuslimahNews.com — Bom bunuh diri di GKI Diponegoro, Surabaya (13/5/2018) membawa persoalan baru. Pelakunya seorang ibu dan dua anak yang masih berusia di bawah lima tahun. Menurut pemberitaan CNNIndonesia.com (19/5) Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar tak menampik homeschooling (baca: sekolah rumah, red) tunggal mungkin menjadi sarana baru bagi orangtua mengajarkan radikalisme pada anak.

Kemendikbud mengakui sulit mengawasi penyebaran paham radikalisme yang menyebar melalui sekolah informal, khususnya homeschooling tunggal yang diadakan oleh orangtua.

Pernyataan Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud tersebut sangat sensitif dan bisa menyebabkan chaos, terutama di bidang pendidikan. Bagaimana bisa proses layanan pendidikan yang juga telah diatur penyelenggaraannya oleh negara (dalam hal ini homeschooling) dianggap sebagai cikal-bakal lahirnya radikalisme?

Kita bisa lihat dalam pasal 1 ayat (4) Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 bahwa Sekolahrumah adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain dalam bentuk tunggal, majemuk, dan komunitas di mana proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi peserta didik yang unik dapat berkembang secara maksimal. Sedangkan dalam pasal 1 ayat (5) Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 Sekolahrumah Tunggal adalah layanan pendidikan berbasis keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua dalam satu keluarga untuk peserta didik dan tidak bergabung dengan keluarga lain yang menerapkan sekolahrumah tunggal lainnya.

Homeschooling Bukan Sarana Indoktrinasi Orangtua

Tujuan diselenggarakan Sekolahrumah sebagaimana termaktub dalam pasal 2 huruf (c) Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 adalah dalam rangka pemenuhan layanan pendidikan yang secara sadar, teratur, dan terarah dengan mengutamakan untuk menumbuhkan dan menerapkan kemandirian dalam belajar, yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang berbentuk pembelajaran mandiri dimana pembelajaran dapat berlangsung di rumah atau tempat-tempat lain dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.

Kita bisa lihat bersama, payung hukum bagi keberadaan Sekolahrumah atau homeschooling telah jelas-jelas ada dan dijabarkan dengan gamblang dalam Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014. Jadi tidak ada alasan untuk men-judge bahwa homeschooling bisa menjadi akar penyebaran paham radikal. Ini sungguh stereotip negatif yang menyakitkan masyarakat, terutama para pegiat homeschooling termasuk anak-anak dan orangtua yang memilih homeschooling sebagai pilihan terbaik untuk kondisi mereka. Kita tidak bisa menyalahkan pilihan tersebut karena toh sah-sah saja dan legal. Selain itu, proses transfer ilmu dan pengajaran dalam homeschooling dilakukan secara sadar, terarah, dan selayaknya juga terpantau oleh pemerintah melalui Kemendikbud.
Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Jika kemudian orangtua memilih homeschooling, pasti itu berdasarkan pertimbangan terbaik untuk anaknya. Nilai-nilai moral, agama, akhlak dll yang ditanamkan orangtua adalah untuk kebaikan anaknya. Kita meyakini, tak ada orangtua yang menginginkan anak-anaknya memiliki karakter yang buruk seperti merusak atau yang lain. Dan tentunya homeschooling bukan sarana indoktrinasi nilai-nilai agama oleh orangtuanya. Ini tudingan yang fatal.

Kapitalisme Biang Terorisme dan Islamofobia

Isu terorisme masih saja mengintai hingga hari ini. Bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya ini telah menambah ketakutan pada diri masyarakat. Ujung-ujungnya islamofobia kian menguat. Dampaknya, banyak pihak yang kemudian menjadi terintimidasi. Persekusi dialami oleh banyak kalangan. Sebelumnya terjadi pada ulama-ulama hanif. Mereka diserang membabi buta bahkan ada yang wafat terbunuh orang gila. Kemudian melebar ke kalangan pesantren. Tak hanya itu, dunia pendidikan juga kena imbasnya. Banyak dosen dan mahasiswa yang kemudian harus dipanggil oleh pihak berwenang di kampusnya karena diduga terkait penyebaran radikalisme dunia kampus. Sekolah dan rohisnya juga dianggap sebagai tempat menyebarkan ide-ide radikal yang konotasinya negatif.

Setelah kasus bom bunuh diri seorang ibu dan dua balita di GKI Diponegoro Surabaya 13 Mei 2018 kaum perempuan (baca: ibu) dan anak-anak juga dicurigai. Atas nama perlawanan terhadap radikalisme, kaum Muslimah, ibu-ibu bergamis dan berpakaian syar’i seakan-akan menjadi pihak tertuduh pelaku terorisme. Lagi-lagi, simbol Islam dikriminalisasi dan dicitraburukkan. Astaghfirullah.

Kalau semua hal dianggap biang terorisme jelas ini fobia yang berlebihan. Padahal yang terang-benderang menjadi ancaman besar bagi rakyat saat ini bukan Islam, tapi sistem kapitalis dan sekular-pluralisme-liberal (sipilis) yang jelas-jelas membawa kemudaratan.
Dibawah sistem kapitalisme, harga-harga kebutuhan pokok meroket, biaya kesehatan dan pendidikan melonjak tinggi, rakyat miskin bertambah banyak. Dibawah sistem sipilis, dekadensi moral semakin parah. Pergaulan semakin amburadul, seks bebas meraja lela, aborsi mewabah, generasi muda kita di ambang kehancuran.

Janganlah kemudian mengkambinghitamkan Islam, padahal sistem pembawa kebobrokan yang sedang diterapkan adalah kapitalisme-sipilis. Apalagi menambah kegaduhan seperti mengaitkan homeschooling dengan radikalisme. []

%d blogger menyukai ini: