Demokrasi Hipokrit

Oleh : Emma LF (Anggota Forum Muslimah Indonesia)

MuslimahNews.com — Demokrasi. Demokrasi. Demokrasi! Banyak orang meyakini bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik saat ini. Selama dua seperempat abad demokrasi digaungkan di berbagai belahan dunia. Bagaimana dengan saat ini? Apakah negeri-negeri tempat demokrasi diimplementasikan itu lebih maju, adil, sejahtera dan beradab?

Di Amerika Serikat (AS) sang perintis demokrasi, bidang politik dan ekonominya dikuasai oleh kalangan konglomerat. Pada 2016 Donald Trump, konglomerat asal New York dan seorang taipan real estate, memenangi pemilu AS atas lawannya Hillary Clinton. Jabatan-jabatan politik, baik eksekutif maupun legislatif, menjadi hak para konglomerat atau pihak yang mendapat dukungan dari kalangan superkaya. Terdapat jurang pemisah yang menganga antara penguasa (konglomerasi) dan rakyat (publik). Maka kita bisa pahami kenapa sampai terjadi aksi protes “Occupy Wall Street” di seluruh wilayah AS melawan ketimpangan politik dan ekonomi tersebut.

Gerakan anti Wall Street ini membagi masyarakat Amerika menjadi kelompok satu persen dan 99 persen. Kelompok satu persen adalah kalangan konglomerat yang mengontrol aset 80 persen masyarakat. Sedangkan kelompok 99 persen adalah kelompok yang hanya menyicipi 20 persen kekayaan publik.
Kekerasan dan hedonisme memenuhi tayangan TV. Kondisi moral generasi mereka rusak. Jajak pendapat yang diadakan oleh Lembaga polling Amerika, Gallup, pada bulan November 2004 menunjukkan 64 persen warga Amerika menyatakan nilai-nilai moral di negara itu merosot, dan responden yang menyatakan hal serupa di tahun 2017 jumlahnya menjadi 77 persen. Sebagaimana dilansir dari http://parstoday.com (8/11/2017), pada tahun 2010, tercatat lebih dari sembilan juta aksi pencurian terjadi di Amerika dan menimbulkan kerugian sampai 15 milyar dolar. Pada tahun yang sama, lebih dari 16 ribu orang dibunuh, artinya setiap hari terjadi sekitar 45 aksi pembunuhan.

Di sisi lain, warga Amerika yang dipenjara berjumlah dua juta orang, angka tertinggi di dunia, dan warga yang dijatuhi hukuman lain sebagai ganti penjara, jumlahnya lebih banyak. Kondisi lebih buruk di alami para remaja dan kaum muda Amerika. Sebagai contoh, setiap hari sekitar 1000 remaja putri Amerika hamil di luar nikah dan 1000 remaja mengkonsumsi minuman keras. Dilaporkan, sejak tahun 1973 setelah Pengadilan Tinggi Amerika melegalkan aborsi, 57 juta kasus pengguguran janin terjadi di negara itu.

Setiap tahun, tiga juta kasus penyiksaan anak di Amerika terjadi dan setiap hari empat anak-anak meninggal karena aksi penyiksaan. Ditambah setiap tahunnya 800 ribu anak dilaporkan hilang dan setiap hari 2.000 pelajar sekolah lari dari rumah. Lebih dari 237 ribu orang setiap tahun di Amerika menjadi korban penyiksaan fisik dan menurut sejumlah riset, 0,2 persen perempuan Amerika menjadi korban pelecehan seksual.

Inilah AS, lalu bagaimana dengan belahan bumi lainnya? Di Eropa Barat, kedaulatan orang kaya juga cukup mewabah. Kesenjangan sosial dan moralitas yang rusak menjadi pemandangan biasa. Bentrokan etnis, rasialisme, homoseks masih kerap terjadi di sana. Sedangkan kondisi di Eropa Timur juga tidak jauh berbeda. Jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin semakin menganga.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tahu sendiri bagaimana negeri ini. Gonjang-ganjing berbagai isu berganti demikian cepatnya. Mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok seperti TDL, gas elpiji, beras, telur dan lain-lain. Kemudian ramai isu pembubaran ormas dan berujung pada isu terorisme.

Itulah fakta mayoritas dari peta dunia sekarang yaitu banyaknya problematika di negeri-negeri penganut demokrasi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa yang terjadi saat ini tak seindah kampanye demokrasi? Mengapa kenyataannya tak sesuai janji-janji-nya?

Saat demokrasi baru saja muncul di Eropa dan AS pada akhir abad ke-18M Monarki Absolut tengah menindas Eropa Barat. Raja, bangsawan dan Gereja seakan kompak menindas rakyat. Awal mula demokrasi muncul di Perancis, semboyan Liberte, Egalite, Fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan) dikumandangkan. Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis mengakhiri keberadaan monarki namun diiringi anarki dan tewasnya banyak tokoh rakyat. Awal-awal munculnya demokrasi di AS juga diiringi kegaduhan dan memakan korban. Alexander Hamilton,menteri keuangan AS, tewas di tangan musuhnya. Hal ini menimbulkan trauma di Barat. Segala macam penindasan, politisasi agama, sentralisasi, dan hukum yang keras nampak seperti vampire.

Dalam sistem monarki absolut, politik adalah kekuasaan. Hal ini nampaknya juga menjadi watak demokrasi di mana orientasi kekuasaan menjadi tujuan dari demokrasi. Hingga saat ini demokrasi hidup bersama kapitalisme. Kapitalisme mengagungkan individualisme di mana kepentingan individu lebih diutamakan. Manusia sebagai pemburu materi sehingga politik pun dilakukan untuk mengejar materi dan kepentingan individu. Dan inilah yang menyebabkan perebutan kekuasaan antarpartai senantiasa mewarnai negara demokrasi. Ujung-ujungnya, rakyat semakin terabaikan dan menderita, hanya dijadikan sebagai mesin pendulang suara saat pemilu. Semboyan Liberte, Egalite, Fraternite atau lebih familiar kita dengar dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat menjadi lip service belaka.

Demokrasi hipokrit. Munafik dan penuh kepura-puraan. Kepentingan rakyat tidak lagi diutamakan, yang ada adalah kepentingan penguasa dan segelintir orang/ golongan tertentu. Kebebasan bersuara, berpendapat, menyampaikan aspirasi tak seindah konsepnya. Termasuk kebebasan berserikat dan berkumpul juga demikian. Pada faktanya berbagai pelarangan, pembungkaman dan penindasan dengan jiwa-jiwa monarki absolut pun terjadi. Hal ini benar-benar ada dan menjadi pemandangan kasat mata masyarakat demokrasi. Rakyat semakin menderita karena ketidakadilan penguasa.

Hanya ada satu solusi bagi perubahan yang hakiki, yakni tinggalkan demokrasi yang hipokrit ini. Pertanyaannya, kalau bukan demokrasi, apa solusinya? Sistem Islam. Sistem Islam ini terbukti unggul selama berabad-abad lamanya ketika diterapkan. Berbagai kemajuan didapatkan. Peradaban dunia berubah dari `gelap` menjadi `terang-benderang`. Mengapa bisa terjadi? Karena semua yang diterapkan dalam sistem tersebut adalah buatan Allah Subhanahu wa ta`ala, Yang Mahabenar dan Maha Adil. Sistem ini mampu mengayomi seluruh manusia tanpa terkecuali. Hanya dengan sistem Islam, syariah Islam bisa diterapkan secara kafah dan menjadi rahmat bagi seluruh alam akan menjadi kenyataan.[]

%d blogger menyukai ini: