Jangan Mengundang Kebencian Allah SWT

*Perbuatan tak seindah ucapan

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com — Akhir-akhir ini muncul orang-orang yang dengan lantang menyerukan “Saya Pancasila“ “NKRI harga mati!” Apakah mereka representasi orang yang paling baik dalam pengamalan Pancasila? Apakah mereka benar-benar cinta negeri ini dan berjuang paling depan dalam memperjuangkan eksistensi negeri ini? Fakta menunjukkan, tidak sedikit orang yang dengan gagah berani menyampaikan slogan tersebut ternyata sikap dan perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka agung-agungkan.

Diantara mereka itu telah terbukti melakukan korupsi yang jelas-jelas merugikan negara. Mereka juga ada yang tidak segan-segan melakukan kekerasan dan persekusi terhadap pihak lain yang dianggap tidak sejalan. Bukankah perilaku tersebut melanggar budaya musyawarah bahkan tidak mencerminkan kemanusiaan yang adil dan beradab?

Mereka pun sibuk mengkriminalkan orang-orang yang ingin menjalankan syariat agamanya. Padahal jika benar mengakui Ketuhanan yang Maha Esa semestinya menghargai siapapun yang ingin mentaati aturan agamanya. Lebih parah lagi, mereka yang giat mengusung “NKRI harga mati!” ternyata tidak berkutik dengan gerakan-gerakan separatisme; mereka tetap membiarkan berlangsungnya penjarahan kekayaan negara; bahkan ada juga yang tidak merasa bersalah menjual aset bangsa kepada asing.

Lalu, apa makna slogan yang mereka kumandangkan itu? Nilai-nilai dan aturan yang disakralkan seolah hanya berlaku untuk pihak lain saja, sementara mereka cukup sebagai penyeru saja. Bahkan boleh jadi slogan tersebut digunakan sebagai tabir untuk menutupi cacat dan keburukan mereka. Sebagai senjata yang dipakai untuk menyerang dan menjatuhkan lawan yang berseberangan.

Sungguh sebuah sikap yang tidak menunjukkan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Sikap yang sangat tidak disukai Allah SWT, sebagaimana firman Nya dalam surat Ash-Shaaf [61] ayat 3: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Slogan Tanpa Bukti Nyata, Ibarat Keledai Memikul Kitab

Jika dicermati sepak terjang mereka, bisa dikatakan bahwa sebenarnya mungkin mereka sendiri tidak memahami benar makna perkataan yang mereka ulang-ulang itu. Atau boleh jadi latah mengucapkannya supaya tidak dituduh anti Pancasila dan anti NKRI.

Jadi, lebih sekedar langkah penyelamatan diri. Bagi seorang Muslim tentu tidak akan melakukan perbuatan hina ini. Allah SWT dalam surat Al-Jumu’ah ayat 5, telah mengibaratkan orang seperti ini dengan perumpamaan yang sangat tepat. Seperti keledai yang ke sana kemari memikul kitab.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (5)

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Imam Ibnu Katsîr menyatakan “Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan celaan bagi kaum Yahudi yang telah diberi Taurat untuk diamalkan, namun mereka tidak menunaikannya. Mereka hanya menghafal teks-teksnya saja, tanpa memahami dan tidak pula mengamalkan substansinya. Justru mereka menyelewengkannya, menyimpangkan serta mengubahnya. Perumpamaan mereka dalam hal itu tak ubahnya seperti keledai yang membawa kitab-kitab, keledai tidak mengetahui apa yang terdapat padanya sekalipun dia memikulnya.”

Karakter seperti Yahudi ini ternyata dimiliki juga oleh sebagian orang di negeri ini. Bangga dengan slogan, namun kosong pembuktian.

Bangga Mendakwahkan Ajaran Allah dan Menyatakan “Sesungguhnya Aku termasuk Muslim”

Seorang Muslim akan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia sesuai tuntunan alquran sebagaimana dicontohkan Baginda Rasulullah Saw. Dia akan menyelaraskan antara keyakinan dalam hati, pengakuan dalam lisan, serta pembuktian dalam perbuatan. Dia akan menjauhkan perkataan yang tidak dia yakini kebenarannya, dia pun akan menghindarkan dirinya dari melakukan amal yang tidak dipahaminya. Sebaliknya, dia akan istiqamah untuk terus mengajak manusia ke jalan Allah. Dia akan senantiasa semangat menyampaikan dakwah Islam apapun resikonya, sebab dia yakin bahwa amal tersebut telah diakui Allah sebagai ‘perkataan terbaik’. Dia pun dengan bangga akan mangatakan: “Sesungguhnya Aku termasuk Muslim”, sebagaimana firman Allah dalam surat Fushilat ayat 32:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”?

Ya, pernyataan penuh ketulusan dan keyakinan. Pengakuan yang dilanjutkan dengan pembuktian berupa ketaatan pada syariat Penciptanya. Bukan ucapan sebatas slogan tanpa makna.

Penutup

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari kalimat-kalimat yang akan mengundang kebencian Nya. Kita memohon kepada Allah agar istiqamah berjuang di jalan dakwah. Dakwah Islamlah yang akan menyelamatkan negeri ini juga seluruh umat manusia dari kebinasaan hidup di dunia serta membebaskan dari azab Nya di akhirat kelak.[]

%d blogger menyukai ini: