Dunia Intelektual Terbungkam Label Radikalisasi

Oleh: Indira S.Rahmawaty
(Praktisi Pendidikan Tinggi Islam di Bandung)

MuslimahNews.com — “Kemenristekdikti Ancam Pecat Rektor Unri Terkait Radikalisme” demikian judul berita yang diangkat oleh berbagai media. Pada saat yang sama dan pada pemberitaan sebelumnya hangat isu tentang Guru besar Undip yang dibebastugaskan sementara dari jabatannya dan juga Guru besar ITS yang diperlakukan seperti kriminal karena dipandang mendukung gerakan yang (dilabeli) radikal. Beberapa dosen yang lainpun ada yang dinilai terindikasi paham radikal. Kemeristekdiktipun menegaskan bahwa tidak ada kampus yang steril dari pengawasan BNPT.

Indikasi dukungan tersebut berbentuk tulisan dan meme yang sebenarnya masih memiliki ruang untuk diskusi dan konfirmasi. Inilah yang diungkapkan salah seorang guru besar tersebut. Namun ternyata label radikal begitu ampuh untuk menyalahkan dan membungkam suara para intelektual yang sudah lama mengabdi pada dunia pendidikan tinggi tersebut.

Intelektual tersebut juga dipandang kehilangan akal sehat karena mendukung terorisme dan radikalisme. Padahal yang mereka lakukan adalah mendukung ajaran Islam dan pengembannya yaitu ide khilafah dan pengembannya. Di sisi lain kita ketahui bahwa suara intelektual biasanya tidak sembarangan namun logis-argumentatif dan teristimewa dalam kasus ini: Berani dan membela Islam. Sepertinya 2 hal terakhir inilah yang menjadi dasar indikasi radikal tersebut.

Ada banyak hal yang ditunjukkan dalam kasus ini:

Pertama, makin kuatnya bukti istilah radikalisme juga intoleransi adalah label yang menjadi hak penguasa (atau pendukung penguasa) untuk menafsirkan dan menggunakannya sebagai senjata kepada pihak yang dianggap tidak mendukung kelanggengan kekuasaannnya.

Kedua, bukti ketidakadilan sekaligus ketidak konsistenan yang secara eksplisit ditunjukkan penguasa. Karena tindakan yang sama tidak seserius dan setegas kepada komunisme yang dianggap bahaya laten dan dipayungi oleh ketetapan MPR atau perilaku kebebasan seksual serta narkoba yang juga seringkali terjadi di kampus.

Ketiga, kampus dipaksa menjadi ruangan yang kehilangan jati dirinya. Jatidiri yang membuatnya terhormat, hidup dan bisa berkembang yaitu sebagai mimbar akademik yang rasional-argumentatif. Pada hakikatnya apa yang terjadi di Universitas Riau dan apa yang menimpa guru besar UNDIP dan ITS tersebut bukanlah sekedar perkara insidental-kasusistik tapi merupakan gambaran upaya serius dalam membungkam dunia intelektual untuk bersuara kritis terhadap berbagai isu politis-strategis yang diambil penguasa. Dan menghentikan suara lantang untuk membela Islam dan hukum-hukumnya.

Keempat, bukti keseriusan sekaligus phobi tingkat tinggi untuk melumpuhkan Islam politis. Sampai-sampai ada kontradiksi pernyataan menristekdikti tentang sanksi pemecatan atau pemberhentian bagi dosen yang berstatus pegawai negeri sipil padahal di UU ASN ada sebuah prosedur cukup panjang yang harus ditempuh. SIkap rela rugi bahkan kehilangan SDM intelektual berkualitas yang telah teruji mengabdi pada kampus atau pasukan bersenjata yang masuk kampus tanpa pemberitahuan dan merangsek ke dalam kampus: Ini memang keseriusan karena ketakutan tingkat tinggi. Takut dan ingin menyebarluaskan ketakutan tersebut dengan ancaman dan hukuman.

Kelima, ini sebenarnya adalah gambaran bagaimana pena juga suara intelektual begitu besar pengaruhnya. Tentu kita pernah mendengar sebuah pepatah “Pena bisa lebih tajam daripada pedang”. Sebuah pepatah yang benar adanya dan dibunyikan hari ini dengan bahasa hate speech, hoax atau pasal penghinaan. Namun pepatah tersebut mempunyai 2 sisi. Karena pena sebagaimana pedang dia hanyalah “alat atau instrument” untuk berpihak pada al-haq (kebenaran) atau berpihak pada kebathilan, untuk menebas kemunkaran atau sebaliknya menebas kema’rufan. Pena juga adalah alat yang identik lihai dimainkan para intelektual. Sosok yang karena ilmunya mampu untuk menuangkan gagasan dengan baik dan jelas. Kemampuannya inilah yang di perlukan banyak pihak baik yang berniat baik atau jahat, untuk hal yang benar maupun salah. Namun keputusan ada di tangan sang intelektual sendiri: Apakah kemampuannya akan digunakan untuk kebaikan atau kejahatan? Untuk menghadirkan kebenaran atau melanggengkan keburukan?

Wahai para cendikiawan Muslim! Wahai Ulul Albab! Jangan terbungkam! Jadikan pena dan suaramu menjadi pembela kebenaran agar menjadi hujjah di hadapan Allah yang Maha mengetahui dan yang Maha Benar bahwa: ilmumu adalah ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang menunjuki pada kebenaran dan mencegah kebathilan.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (TQS. Fushilat: 33)

Tulisan ini adalah goresan pena biasa yang ditulis dengan kewarasan akal, kejujuran terhadap nurani dan kengerian akan hari penghisaban kelak. Wallahu a’lam.[]

%d blogger menyukai ini: