Teror Bendera Israel dan UU Anti-Terorisme, Membidik Siapa?

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Di tengah gencarnya perbincangan tentang aksi terorisme pasca peristiwa Mako Brimob dan bom di Jawa Timur, di ujung Timur wilayah NKRI muncul pula aksi atraktif berupa pengibaran bendera Israel secara massal yg digagas oleh komunitas Sion Kids Jayapura.

Yang banyak memunculkan pertanyaan adalah sikap diam pemerintah dan aparat keamanan terhadap aksi yang seharusnya terkategori makar ini. Terlebih aksi ini bertepatan dengan momentum pembukaan kantor kedubes AS untuk Israel di Yerusalem yang merupakan wilayah sah milik rakyat Palestina bahkan kaum Muslim dunia.

Bahkan bukan hanya diam. Aparat keamanan diwakili Kapolda Papua, Boy Rafli seolah memberi pembelaan dengan menyebut bahwa aksi pengibaran bendera Bintang David ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Jayapura.

Pertanyaannya, bagaimana bisa pengibaran bendera Israel menjadi tradisi masyarakat Timur Indonesia? Sementara nyata-nyata Israel adalah pencaplok tanah Muslim Palestina dan sebaik-baik contoh negara teroris hakiki di dunia bersama dengan orangtua asuhnya yang bernama Amerika? Bagaimana bisa, pemerintah Indonesia yang dalam UUD-nya disebutkan anti penjajahan dan siap bersama Amerika menyukseskan agenda War on terrorism (WOT) merelakan ada warga negaranya membangga-banggakan simbol negara penjajah dengan dalih sudah menjadi tradisi? Lantas siapa yang mencekokkan kepada rakyat Jayapura tentang tradisi pengibaran bendera negara yang menjadi simbol penjajahan yang ril dan teroris hakiki di dunia hingga saat ini?

Sikap ini jauh berbeda ketika yang dihadapi adalah bendera bertuliskan kalimah thayyibah, Arrayah dan Alliwa’. Bendera ini memang seolah sudah menjadi simbol perjuangan umat Islam melawan hegemoni kapitalisme global yang digawangi AS dan sekutu-sekutunya.

Bendera yang massif dikenalkan oleh Hizbut Tahrir sebagai bendera Rasulullah saw, bendera Khilafah dan bendera persatuan kaum Muslimin ini memang kian mendapat tempat di hati umat. Sedikit demi sedikit umat mulai menyadari bahwa demi kalimat tauhid itu mereka hidup dan mati. Dan di bawah panji kalimat ini mereka hidup dan mati.

Namun tentu berbeda dengan pandangan negara-negara kapitalis sebagai penguasa dunia dan para kaki tangannya. Kemunculan simbol-simbol Islam di berbagai belahan dunia sebagaimana Arrayah dan Alliwa’ ini seakan menjadi isyarat kematian bagi hegemoni dan agenda penjajahan mereka di dunia. Mereka tahu bahwa jika umat Islam bangkit bersatu, maka umat Islam akan kembali kuat dan mampu mengalahkan mereka sebagaimana sebelumnya. Itulah kenapa, reaksi berbeda mereka tunjukkan kepada munculnya dua bendera ini, bendera Bintang David dan bendera Arrayah & Alliwa’.

Ya, Arrayah & Alliwa’ yang identik dengan gagasan perjuangan Khilafah kini sudah di-setting menjadi simbol terorisme yang wajib diwaspadai, distigmatisasi bahkan pembawanya harus siap dikriminalisasi. Bahkan jika dicermati, fokus utama agenda global WOT yang dicanangkan AS pasca peristiwa — settingan–pemboman WTC adalah, untuk memerangi kebangkitan Islam dengan perjuangan penegakkan Khilafah. Maka, dengan sedikit ancaman politik stick and carrot ala AS, ramai-ramailah para penguasa dunia, termasuk Indonesia mengamini agenda AS Sang Penguasa dunia ini.

Berbagai proyek intelijenpun digelar untuk menguatkan opini bahwa geliat kebangkitan Islam adalah ancaman dan para pejuangnya adalah teroris yang wajib dihancurkan, tak terkecuali di Indonesia. Terlebih, sejak era 90-an di Indonesiapun gaung kebangkitan Islam –pelan tapi pasti– kian terus mencuat ke permukaan. Terutama, mendapat momentum terbaiknya saat kasus Ahok muncul dan menggerakkan jutaan orang untuk melakukan aksi bela Islam di mana Arrayah & Alliwa’ menjadi simbol pemersatu dan Khilafah menjadi opini yang tak terbendung, pun berpengaruh terhadap peta perpolitikan nasional.

Itulah kenapa berbagai kasus teror yang kian masif bermunculan diduga terkait dengan fenomena ini. Termasuk teror yang terjadi akhir-akhir ini.

Selain selalu langsung menjadi headline, isunya pun terus bergulir dan ‘digoreng’ sebagian media sedemikian rupa. Dan seperti biasa, ujung-ujungnya selalu berhenti pada tudingan bahwa kelompok Islam garis keras penyeru Khilafahlah yang berada di belakangnya. Nama HTI, JAD, ISIS dan beberapa nama aktivispun muncul sebagai pihak yang disebut-sebut sebagai biang kericuhan.

Bak bola liar, berbagai aksi persekusi, upaya alienasi bahkan kriminalisasipun mulai terjadi atas semua pihak yang diduga termasuk atau terkait dengan kelompok garis keras/radikalis penyeru Khilafah dan pengibar Panji Islam.

Ikhtiar pemberangusan nampak dengan persekusi legal yang dialami Hizbut Tahrir Indonesia. Penerbitan Perppu Ormas, pencabutan BHP dan putusan penolakan gugatan HTI terhadap pemerintah oleh PTUN adalah fakta ril yang menunjukkan bahwa HTI diberangus karena menggagas konsep Khilafah dan menyeru pada simbol-simbol tauhidullah yang sejatinya merupakan ajaran Islam dan menjadi solusi atas kerusakan akibat kapitalisme.

Tak hanya itu, meski gagasan Khilafah ini didakwahkan HTI dengan cara elegan dan tanpa kekerasan, namun gagasan yang menjadi versus kapitalisme ini harus ditakuti oleh umat dan dipandang sebagai ancaman besar, hingga ada legitimasi publik agar bisa diterapkan UU yang lebih garang dan bisa menutup celah pertumbuhan sel terluar pergerakan Khilafah. Itulah UU Anti Terorisme yang dinilai banyak pihak akan kian melegitimasi sikap represif dan otoriter penguasa terhadap pihak-pihak yang berlawanan visi politik, terutama yang memiliki visi politik Islam jangka panjang.

Di antara yang menolak, salah satunya adalah KH Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia, “Saya kira sepanjang Undang-Undang Terorisme itu lebih pada arahnya pada pencegahan atau antisipasi, saya kira setuju. Tetapi, kalau pada tindakan yang baru terduga kemudian sudah ditembak, tentu kita tidak setuju,” ujarnya sebagaimana dikutip Kompas di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Khilafah. Itulah kata kunci visi politik jangka panjang yang dianggap sebagai ancaman besar, kemudian diulang-ulang dalam pemberitaan media dan polemik di dunia maya. Istilah ini seakan bersengaja terus dilekatkan dengan monster gerakan penebar teror dunia bernama ISIS, yang harus menjadi musuh dan diperangi bersama. Pertanyaannya, sampai kapan kebohongan dan hipokrisi ini akan dibiarkan?

Tak bisa dipungkiri, kini gagasan Khilafah dengan simbol Arrayah & Alliwa’ memang sedang booming dibicarakan. Bahkan sistem ini mulai diyakini oleh masyarakat banyak sebagai pengganti bagi hegemoni kapitalisme yang terbukti telah membawa banyak kemudaratan.

Kemana Bandul Kemenangan akan Allah Takdirkan?

Kita memang tak mungkin berharap akan ada pemihakan terhadap perjuangan Islam politik (Khilafah berikut simbol Alliwa’ dan Arrayah) dari para penjaga sistem sekuler demokrasi kapitalisme hingga kemenangan itu datang tiba-tiba. Begitupun, kita tak mungkin berharap akan ada penolakan ril terhadap setiap kepentingan adikuasa meskipun hanya sekadar atas simbol sehelai bendera.

Namun kita akan lihat, di tengah bertebarnya fitnah yang “menyamarkan” siapa teroris sebenarnya. Berkibarnya bendera negara teroris Israel adalah teror terhadap Islam dan kedaulatan bangsa Indonesia, karena hal ini tentu berkorelasi dengan peresmian Kedubes AS di Alquds. Pun “teror” monsterisasi terhadap ide Khilafah yang merupakan ajaran Islam, dan segala upaya untuk menyumbat perjuangannya. Umat selayaknya memantau itu semua sambil berikhtiar dan berdoa agar bandul kemenangan itu segera diberikan kepada umat Islam dengan kita sebagai jalannya.[] MNews

%d blogger menyukai ini: