Tuduhan Teror Berjubah “Agama”

Oleh: Ummu Fadhiilah

Muslimahnews.com — Serangkaian aksi teror yang mengguncang Indonesia dikaitkan dengan bangkitnya “jihadis perempuan”. Banyak hipotesis coba menalar apa yang menjadi latar belakang dan tujuan keterlibatan perempuan dalam gerakan jihad. Sayangnya, tak ada yang menyadari dampak maraknya pemberitaan media massa yang cenderung pukul rata dengan mengarahkan persepsi negatif terhadap simbol-simbol dan ajaran Islam.

Tuduhan teror berjubah ‘agama’ kerapkali ditujukan pada Islam, dan hanya pada Islam. Pasalnya, tak pernah terdengar agama selain Islam dituding sumber terorisme ataupun radikalisme. Saat biksu Burma membunuhi wanita dan anak-anak Rohingya, tak ada yang menyematkan gelar teroris mereka. Saat umat Islam yang hendak sholat ‘Ied di Tolikara, diteror dengan lempar batu hingga mesjid dibakar, tidak ada sebutan untuk Nasrani teroris. Beberapa ulama yang diserang beberapa bulan terakhir, ditodong pisau, dilukai bahkan ada yang meninggal, tindakan ini tak pernah disebut radikal, bahkan ironinya pelaku diklaim sebagai orang ‘gila’. Saat umat agama lain menjadi korban, Islam yang menjadi kambing hitam, sebaliknya ketika umat Islam menjadi korban, teroris seolah tak ada.

Saat ini, keterlibatan muslimah dalam ‘tuduhan’ teroris menjadi isu gencar di media, hingga menimbulkan reaksi tidak wajar di tengah umat Islam. Setiap wanita bercadar dicurigai, di kampus, di tempat bekerja, hingga di terminal sekalipun. Bahkan Menag minta agar perempuan bercadar beri rasa aman di masyarakat. Terakhir ini, ada tudingan bahwa perempuan yang dituduh teroris, melakukan tindak teror karena percaya pada gagasan Khilafah. Dengan ketidakpahaman terhadap Khilafah, para aktivis liberal menulis narasi yang jauh dari kebenaran. Bermodal wawancara dan sedikit riset mereka menyimpulkan bahwa para perempuan melakukan tindak kekerasan karena unsur dendam terhadap diskriminasi yang dialaminya, juga karena doktrin hukum jihad.

Andai mereka memahami Khilafah yang sebenarnya, dan bagaimana syari’ah Islam yang akan diterapkan Khilafah begitu selaras dengan akal, hati dan fitrah insani, termasuk perempuan, niscaya mereka akan sangat merindukannya. Khilafah mempunyai pandangan unik dan istimewa terhadap perempuan. Ia diberi kedudukan bergengsi, ia bukan komoditas untuk diperjual-belikan, ia bukan pemuas nafsu syahwat, tapi ia ibu generasi calon pemimpin. Perempuan akan disejahterakan dengan penerapan hukum yang mewajibkan para wali (ayah, suami, saudara laki-laki) untuk menafkahi mereka. Khilafah akan memberi sanksi bagi wali yang melalaikan kewajiban tersebut. Dan bagi perempuan yang tidak mempunyai wali dan kerabat, maka pemenuhan kebutuhan hidupnya dibebankan kepada negara. Khilafah tidak akan membiarkan perempuan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, menyelesaikan persoalan yang menimpanya sendiri.

Khilafah memuliakan perempuan dengan serangkaian hukum sosial dalam Islam. Ia tidak bergaul bebas, melakukan seks bebas seperti sekarang, ia dilindungi dari tindak kriminal seperti jadi kurir narkoba, karena Islam akan melenyapkan narkoba dan barang haram lainnya dari muka bumi. Perempuan juga tidak akan menjual dirinya karena nafkahnya dipenuhi keluarga. Ia tidak berkeliaran di tempat-tempat yang merendahkan martabatnya. Mereka hidup aman dan mulia di rumah suami mereka dengan adanya hukum perwalian. Saat perempuan menunaikan kewajiban ataupun kepentingan mereka di luar rumah, kehormatannya tetap terjaga dengan hukum menutup aurat, tidak ber-khalwat (berduaan dengan laki-laki lain) tanpa mahram. Saat bepergian jauh dengan perjalanan 24 jam atau lebih, harus ditemani mahram laki-lakinya. Berbeda jauh dengan pandangan demokrasi liberal, yang membebaskan perempuan untuk melakukan apa saja dengan dalih hak asasi manusia. Ide kebebasan nyata-nyata telah menodai kehormatan perempuan.

Andai saja hukum-hukum Allah diterapkan saat ini, dan dijadikan solusi berbagai masalah, mestinya tidak akan ada tuduhan atau lebih tepatnya fitnah terhadap Islam. Karena pasti akan dirasakan bagaimana kebaikan aturan paripurna dari Sang Pencipta untuk kehidupan manusia.

Sudah semestinya bagi umat Islam memiliki daya pikir kritis dengan peristiwa dan opini ihwal terorisme ini. Citra buruk terhadap Islam adalah bagian dari perang pemikiran yang mesti dilawan dengan merujuk pada pemahaman Islam yang benar. Karenanya, istiqamahlah untuk terus mengkaji hukum-hukum Islam yang menjadi kewajiban kita semua, dan tidak hanya untuk dikaji, tapi Allah SWT meminta kita untuk mengamalkan dan menyerukannya pada yang lain.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”(QS. Ali Imran:104).[]

%d blogger menyukai ini: