Memutus Laku Orangtua ‘Durhaka’

Oleh: Hana Ummu Dzakiy (Pemerhati Generasi)

MuslimahNews.com — Jika dulu ada cerita si Malin Kundang yang dikutuk jadi batu oleh ibunya karena jadi anak durhaka. Zaman now, banyak orangtua yang ‘durhaka’ kepada anaknya. ‘Durhaka’ kepada anak tidak hanya dalam rupa melakukan kekerasan. Kurang memberi perhatian, lebih asyik menatap layar hp daripada menatap mata anak. Itu adalah termasuk kategori ‘durhaka’ kepada anak. Bahkan meng-upload video kejadian tidak mengenakkan yang dialami si anak ke sosmed bahkan sampai viral, itu bisa termasuk kategori durhaka. Kita tidak tahu, seperti apa perasaan si anak. Setujukah dia video tidak mengenakkan terkait dirinya itu diupload? Apalagi jika dilihat ribuan mata. Bisa aja berdampak buruk pada psikologis nya. Sayangnya, jarang orangtua yang memikirkan hal ini.

Akhir-akhir ini, lini masa sosmed viral dengan video anak yang ditendang di salah satu arena bermain. Tendangan ini bukannya tanpa sebab. Anak tersebut bermain ayunan sehingga secara tak sengaja mengenai anak lain hingga terpental. Orang tua korban langsung menendang si anak yang bermain ayunan tersebut. Si ayah korban mengkalim bahwa ia sama sekali tidak bermaksud menendang anak tersebut. Ia secara refleks ingin segera menghentikan ayunan si anak. Alasan yang cukup masuk di akal. Dalam kondisi spontan bin refleks, anaknya sudah jadi korban. Si ayah ingin segera menghentikan ayunan tersebut.

Sayangnya video sudah menjadi viral. Kecaman juga sudah didapatkan si ayah korban karena melakukan kekerasan kepada anak. Tapi ada juga yang menyalahkan si ibu pelaku karena lalai dari mengawasi anaknya yang bermain di tempat umum. Ada juga yang menyalahkan keduanya. Apalagi, yang memvideokan dan menguoploadnya adalah ibu si pelaku. Dengan kata lain, ibu si pelaku sedang stand by dengan hpnya. Tapi tidak stand by mengawasi anaknya.Anak adalah aset generasi masa depan. Orangtua harus menjaga aset ini dengan sebaik-baiknya. Termasuk memberikan pengawasan terbaik kepada anak terutama ketika bermain di tempat umum. Sebaiknya, fokus perhatian kita adalah ke anak. Bukan asyik ngobrol ataupun asyik main hp sementara tidak memperhatikan anaknya. Padahal bisa jadi anaknya melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya bahkan orang lain. Mengajak anak pergi ke suatu tempat bermain, tempat wisata, ke tempat saudara, sejatinya hanyalah pindah lokasi ngemong. Bukan berarti kita sama sekali tidak mengasuh dan mengawasi anak. Bahkan jika di luar rumah, pengawasan itu harus lebih ekstra karena sangat mungkin anak berinteraksi dengan anak lain. Apakah ngobrol dengan orang lain atau bahkan ‘menyenggol’ orang lain. Maka, singkirkan dulu hp ketika kita dan anak kita sedang berada di tempat umum. Tak mengapa ketinggalan update berita. Daripada terjadi apa-apa dengan anak kita.

Sebagai orangtua, sudah alamiahnya kita sayang sepenuh hati dengan anak. Tak rela melihat anak tersakiti oleh anak lain. Apalagi sekarang ini banyak orangtua yang waktunya habis untuk bekerja. Waktunya hanya tersisa sedikit untuk anak. Wujud kasih sayang terhadap ini kadang dalam rupa yang agak berlebihan. Misal langsung membela anak mati-matian padahal hanya konflik kecil antar anak. Ini adalah efek dari sedikitnya waktu yang orangtua punya untuk memperhatikan anaknya.

Segala tingkah polah orangtua sebenarnya tidak lepas dari pengaruh atmosfer sistem yang melingkupi kehidupan kita saat ini yakni sistem kapitalis. Mau tidak mau, suka tidak suka, sistem kapitalis telah memberikan pengaruh pada orangtua tentang style-nya mendidik anak.

Dalam suasana kapitalis, memaksa orangtua untuk sibuk bekerja agar dapat uang banyak. Mikirnya, toh uang ini juga untuk anaknya. Membiayai sekolah anak yang dari tahun ke tahun kian mahal, biaya menghidupi anak yang jumlahnya tidak sedikit, membelikan sarana bermain dan belajar untuk anak. Sangat mungkin, jika orangtua kemudian sibuk bekerja dan hanya sedikit waktu untuk anaknya. Padahal alamiahnya ingin mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada anaknya. Maka tak heran jika orangtua langsung tidak terima jika anaknya tersakiti oleh anak lain. Atau orangtua tidak bisa menghadapi situasi yang sedang menimpa anak dengan kepala dingin.

Hal ini karena jarangnya berinteraksi dengan anak, jarangnya melihat tingkah polah anak yang luar biasa, minimnya ilmu penanganan menghadapi anak.Settingan kehidupan sistem kapitalis ini juga mengacaukan para perempuan. Menjadikan perempuan tidak siap menjadi ibu. Sistem pendidikan dalam sistem kapitalis hanya menghasilkan generasi yang siap kerja dan dipakai untuk kepentingan industri.

Para perempuan dalam sistem pendidikan ala kapitalis disetting untuk ‘maskulin’. Tidak lihai menjalankan profesinya sebagai ibu bahkan dianggap peran yang tidak strategis dan tidak produktif sehingga disepelekan. Jadi ibunya pun hanya ibu kebetulan. Bukan ibu betulan yang siap memberikan segalanya untuk anaknya. Termasuk memberi perhatian untuk anaknya. Lebih suka mengusap layar hp daripada mengusap kepala anaknya. Tidak betah berlama-lama dengan anak bahkan merasa terganggu. Padahal harusnya ia bahagia karena anak selalu di sisinya.Pada akhirnya, untuk menjadi orangtua yang baik memang butuh sistem yang baik. Butuh sistem pendidikan yang mampu memaksimalkan peran keayahan dan keibuan. Bukan malah menjauhkan generasi dari peran krusial ini.

Butuh sistem pendidikan yang mendewasakan generasi. Membantu anak didiknya untuk meraih prestasi utama dan pertamanya yakni terikat dengan aturan Islam. Inilah tolok ukur kedewasaan seseorang. Siap terikat dengan aturan Islam. Inilah prestasi utama dan pertama yang harus berhasil diraih sebelum generasi berprestasi dalam bidang yang lain.

Kita juga butuh atmosfer sistem kehidupan yang tidak begitu menyusahkan dan berat. Terkadang, kekerasan terhadap anak terjadi karena sudah terlalu banyak beban orangtua di luar sana sehingga anak menjadi pelampiasan. Anak sedikit berulah, langsung terbakar emosinya.

Semoga setiap persoalan yang menimpa aset generasi masa depan, bisa dipikirkan dengan jernih dan mendalam oleh penguasa untuk segera mencari akar masalah dan solusinya. Berharap sistem kehidupan berubah ke sistem yang jauh lebih baik dan kondusif untuk tumbuh kembang anak. Bukankah untuk mendidik anak dengan baik tidak cukup hanya satu keluarga yang baik? Kalau perlu satu kampung itu baik semua. Bahkan satu negara, orangnya baik semua. Untuk mewujudkan itu, kita butuh atmosfer kehidupan yang baik. Semoga dimudahkan untuk mewujudkan sistem yang lebih baik.[]

%d blogger menyukai ini: