Menuju Puncak Khilafah

Oleh: Nindira Aryudhani (Relawan Opini dan Media)

MuslimahNews.com – Masih indah dalam kenangan, kala dalam momentum Islamic Book Fair (IBF) 2018, April lalu, buku “Dari Puncak Khilafah” menjadi buku terbaik. Sebaliknya, tak kalah segar dalam ingatan, ketika sekitar dua tahun belakangan istilah “Khilafah” justru mengalami kriminalisasi. Coba kita pikirkan baik-baik, bagaimana mungkin sebuah buku terbaik mengadopsi istilah yang sarat kriminal? Tentu tidak mungkin. Buku terbaik pastilah memiliki kapasitas terbaik pula untuk mengedukasi pembacanya.

Namun demikian, hingga hari ini kriminalisasi Khilafah masih bisa terjadi sewaktu-waktu. Ironisnya, istilah “Khilafah” diteror oleh beragam pernyataan dari umat Islam sendiri. Seperti “Khilafah tak punya bentuk baku”, “Khilafah sarang korupsi”; kemudian pejuang Khilafah sering disandingkan dengan kaum radikal atau anti-Pancasila, orang yang berkata bahwa visi Khilafah “dakwah dan jihad” akan disebut teroris, pembawa bendera Rasulullah ﷺ disebut anggota ISIS, dsb. Karenanya, penobatan buku karya Eugene Rogan tersebut sebagai buku terbaik, jelas langsung mematahkan argumentasi-argumentasi absurd para pembenci Khilafah itu.

Jika dahulu hanya para pengemban dakwah HT saja yang bicara Khilafah, maka saat ini sudah hampir tiap orang di Indonesia kenal Khilafah.

Tak pelak, istilah “Khilafah” mendadak jadi pembicaraan di berbagai kalangan. Para ulama, kyai, ustadz, akademisi, dsb, satu suara bicara positif tentang Khilafah. Bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Khilafah juga fakta sejarah yang terlalu terang benderang untuk dikelabui, apalagi disesatkan.

Meski memang usaha para pembenci Khilafah pun tak kunjung berhenti. Namun nasib malang bagi mereka, opini negatif yang mereka lontarkan senantiasa mengalami blunder, berbalik sendiri kepada mereka. Mungkin para pembenci itu lupa, akun robot mereka di media sosial pasti mudah tenggelam oleh aksi akun-akun organik penyuara “Khilafah”. Pun para penyeru “Khilafah” di dunia nyata, yang makin eksis bahkan berasal dari kalangan non-HTI.

Sejarah telah memberi pembelajaran. Bahwa Allah SWT selalu punya cara untuk menyampaikan urusan-Nya. Bagaimana pun Allah pasti memenangkan agama-Nya. Dengan bermacam cara tak terduga. Cara yang tidak bisa dibaca oleh manusia. Betapapun manusia keji yang tertimbun dosa berusaha keras menghalanginya, tapi mereka tak akan sanggup menghalangi Allah SWT untuk menyampaikan urusan tersebut. Firman Allah SWT dalam QS Ath-Thalaq [65] ayat 3:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Saat Khilafah sebagai ajaran Islam hendak dikriminalisasi, Allah bangkitkan para tentara-Nya untuk membela. Meluasnya istilah “Khilafah” telah bagai bola liar yang siap melibas penghalang-penghalang dakwah. Lihat saja, saat Khilafah dicaci maki, Allah segerakan tipu daya untuk para pembenci, sehingga mereka terpedaya sendiri. Khilafah makin ditutup-tutupi, makin Allah buka pula pintu melalui orang-orang mukhlis untuk membicarakannya. Khilafah difitnah, makin lebar terbentang jalan yang Allah sajikan untuk menghalau dusta mereka. Orang-orang yang sebelumnya tak diduga, mendadak jadi penolong dakwah syariah dan Khilafah.

Sungguhlah kiranya masa mulkan jabariyyan (pemerintahan diktator) akan segera terbenam tanpa celah, hingga era berganti menuju puncak Khilafah.

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“Kemudian akan ada Khilafah yang berjalan atas metode kenabian.” (HR. Ahmad)[]

%d blogger menyukai ini: