Isu Radikalisme: Proyek Islamophobia Produk Barat

Muslimahnews.com – “Sangat berbahaya dan berpotensi menyesatkan generasi muda Islam! Ini adalah upaya sistematis menjauhkan generasi muda dari ajaran Islamnya yang utuh, yang kaffah. Selain menampakkan kedengkian terhadap Islam, nampak juga ketakutan luar biasa terhadap kembali hadirnya sistem Islam, atau islamophobia,” tukas Iffah Ainur Rochmah kepada MNews terkait seruan agar Mahasiswa mewaspadai radikalisme berdasarkan data-data hasil survei BNPT 39% Mahasiswa terpapar radikalisme tahun 2017, Selasa (1/5/2018).

Menurutnya, Islam mengajarkan secara jelas bagaimana bernegara dalam sebuah sistem politik Islam atau daulah Islam. Juga tak ada satu ulama pun yang berani menyangkal bahwa jihad dengan makna perang adalah bagian sangat penting dari ajaran Islam.

“Ketika dua hal ini (red. konsep bernegara dalam Islam dan jihad) dijadikan indikator penting untuk melabeli orang sebagai radikal, itu artinya ajaran Islam yang agung tersebut ditempatkan seperti kejahatan yang yang harus dijauhi oleh generasi umat Islam,” ungkapnya.

Iffah lalu menjelaskan bahwa upaya mengidentikkan ajaran Islam tentang jihad dengan aksi teror yang diduga dilakukan kelompok tertentu adalah tuduhan keji. Menurutnya, generasi muda, kaum intelektual dan umat harus sadar dan menolak tuduhan keji terhadap Islam ini.

Dari seriusnya rezim hari ini menggarap agenda deradikalisasi, kata Iffah, kita patut mempertanyakan apa sebenarnya tujuan program-program tersebut. Bila benar rezim hari ini berkepentingan menyelamatkan keutuhan bangsa dan melindungi masyarakat dari segala bentuk bahaya, mengapa tidak ada upaya serius pula untuk menangkal arus pengaruh AS dan Cina yang diakui sendiri bahwa masing-masing juga punya kepentingan yang mengancam Indonesia.

Lalu dia menyerukan agar umat Islam kritis dalam membaca fakta yang ada saat ini, “Seharusnya umat kritis, kenapa yang dianggap ancaman mematikan bagi negeri ini adalah radikalisme yang didentikkan dengan terorisme?” Ungkap Iffah.

Sebagaimana diberitakan Metrotvnews.com sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan menyebut sekitar 39 persen Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi terpapar paham radikal. Data itu berdasarkan hasil penelitian BIN pada 2017.

Survei BIN juga memperoleh data 24 persen Mahasiswa, dan 23,3 persen pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam.[]

%d blogger menyukai ini: