Menikah Dini, Dibimbing Bukan Dituding

Oleh: Nindira Aryudhani, Relawan Opini dan Media

Muslimahnews.com – Sepasang belia yang masih duduk di bangku kelas II SMP di Bantaeng, Sulawesi Selatan, ingin segera menghalalkan hubungan kasihnya di hadapan penghulu. Saat mengajukan permohonan pernikahan kepada Kantor Urusan Agama Kecamatan Bantaeng, mereka sempat ditolak karena alasan usia (detik.com).

Pasangan belia itu berusaha menempuh berbagai cara agar dapat dinikahkan. Akhirnya pihak keluarga mengajukan permohonan dispensasi kepada pihak Pengadilan Agama dan dikabulkan. Beruntung, mereka mendapat bimbingan pernikahan yang digelar oleh KUA Kecamatan Bantaeng pada Kamis (12/04/2018) dan dinikahkan pada Senin (16/04/2018).

Respon pemerintah akan pernikahan itu sendiri kurang mendukung. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Yohana Yembise, telah berencana mengkoordinasikan hal ini dengan Kementerian Agama, organisasi masyarakat LSM, NGO, termasuk menyosialisasikannya ke berbagai provinsi. Pemerintah hendak menaikkan batas usia minimal yang diperbolehkan menikah, yakni 20 tahun untuk perempuan dan 20 tahun untuk laki-laki.

Sayang sekali, solusi yang ditawarkan pemerintah tersebut terlihat reaktif, bukan solutif.

Justru mereka yang berencana nikah muda seyogyanya diberi bimbingan dan binaan. Termasuk bagaimana menjalani pranikah sesuai syariah, prosesi pernikahan sesuai syariah, dan kehidupan pasca menikah yang juga sesuai syariah. Karena sesungguhnya, menikah adalah ibadah terlama yang dijalani manusia. Maka, betapa ruginya jika tidak terhias oleh ketaatan senantiasa.

Pemerintah pun seharusnya membina kedewasaan calon mempelai. Tak kalah penting, juga memahamkan tanggung jawab tentang pernikahan dan kehidupan berumahtangga.

Pembinaan kedewasaan akan berpengaruh pada kematangan berpikir dan keberanian bertanggung jawab. Karena penilaian dewasa bukan sekedar usia, namun ada pada kedua indikator tersebut. Bagi muslim, awalnya mereka harus dipahamkan bahwa usia baligh menjadi patokan dimulainya pembebanan pelaksanaan hukum syariat Islam. Pada masa inilah mulai berlaku standar pahala dan dosa pada seorang hamba. Karenanya, manusia muslim yang dewasa adalah mereka yang harus siap menjadi hamba Allah SWT seutuhnya, terikat secara kaffah pada aturan-Nya.

Kemudian, memahamkan fungsi dan tanggung jawab masing-masing peran dalam rumah tangga. Pernikahan adalah perjanjian agung di hadapan Allah Swt. yang harus dijalani sebagai bentuk ibadah. Suami berperan sebagai penanggungjawab keluarga, dialah pencari nafkah bagi keluarga. Sedangkan istri adalah manajer di rumah, Ia berkewajiban melayani suami dan menjalani fungsi keibuan.

 

Penjaga Kesucian

Sejatinya, pernikahan di usia muda jelas sangat penting untuk diapresiasi. Nikah dini mungkin tidak selalu menjadi solusi karena situasi dan kondisi tiap orang pasti berbeda-beda. Tapi pernikahan tersebut ini sudah menjadi salah satu penjaga kesucian dan kehormatan generasi dari amoralitas pergaulan bebas. Tentu kita tak ingin menyaksikan generasi muda menjadi generasi amoral, bukan?

Alhasil, menikah muda selayaknya didukung, jangan dipasung. Menikah muda hendaknya tidak melulu dituding merusak masa depan generasi bangsa. Buka mata, maka akan terlihat jelas, perusak kaum muda adalah pacaran dan pergaulan bebas yang tumbuh subur akibat paham liberalisme di negeri ini.

Pada akhirnya, kehidupan pernikahan -baik di usia muda ataupun tua- akan lebih mudan dijalani jika ditunjang sistem kehidupan yang mendukung optimalnya setiap peran dalam keluarga. Itulah sistem Islam yang berlandaskan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Allahu a’lam []

%d blogger menyukai ini: