Seruan Primordialisme di Balik Puisi Ibu Indonesia

Berita:

Dalam penggalan puisi itu ada frasa kalimat “Aku tak tahu Syariat Islam yang kutahu sari konde Ibu Indonesia sangatlah indah lebih cantik dari cadar dirimu…”

Frasa kalimat  lainnya, “Aku tak tahu syariat Islam yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangat elok lebih merdu dari alunan adzanmu..” (mediaumat.news)

 

Komentar:

Ide dalam puisi tersebut menunjukkan pemahaman yang dianut penulisnya. Bak pepatah, mulutmu-harimaumu, kicauan puisinya menuai kemarahan.

Tindakan yang sangat lancang karena menyebut azan tidak lebih baik dari suara kidung, atau konde dipandang lebih indah dari cadar. Benar-benar lahir dari ide dangkalnya,  karena perkara-perkara tsb tidak layak disejajarkan, karena yang satu lahir datang dari syariah Islam dan satunya dari budaya di luar Islam.

Lontarannya ini tidak lepas dari semakin tajamnya sorotan mata dari kaum sekuler yang phobia dengan Islam. Setiap aktivitas atau hal apapun yang berasal dari Islam (yang sebelumnya sudahh ada), diperkarakan.

Bagi kaum sekuler liberal, kesadaran ber-Islam dibaca sebagai gangguan, karenanya mereka akan terus menghadang.

Karena itu, sadarilah bahwa ini bagian dari perang pemikiran hak dan batil. Budaya-budaya primordial jahiliyah sengaja dipuja-puji, untuk mengecoh umat. Seolah negeri ini akan baik dengan ajaran nenek moyang, mereka coba bangkitkan cinta tanah air dengan ide-ide dangkal yang absurd.

Padahal hancurnya moralitas masyarakat, dan segunung problem bangsa ini karena meninggalkan syariah Islam, mengabaikan panggilan azan untuk bersimpuh pada Sang Pencipta dunia dan negeri ini, Allah SWT dan nasib perempuan pun terhina tersebab karena meninggalkan perintah Ilahi untuk menutup kehormatannya.

Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al Maidah: 50)

Semua ide dari kaun sekularis dan aktivitasnya ‘wajib’ kita lawan.

Wallahu A’lamu

 

Ratu Erma Rahmayanti

Pemerhati Masalah Perempuan, Keluarga, dan Generasi

%d blogger menyukai ini: