Kiprah Intelektual Muslimah di Era Khilafah

Oleh: Nida Saadah

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS Al Baqarah: 164)

Islam mendorong laki-laki dan perempuan untuk mempelajari alam sekitar untuk memanfaatkan ciptaan Allah SWT. Dalam rangka memberikan manfaat bagi umat manusia di segala bidang termasuk ilmu pengetahuan, kedokteran, industri, dan teknologi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika suasana belajar dan kajian yang ditumbuhkan sistem Islam oleh Negara Khilafah membuat pendidikan perempuan juga berkembang. Hasilnya, ribuan ulama perempuan dihasilkan Negara Khilafah yang pertama.

Di dalam Negara Khilafah, kaum perempuan juga unggul dalam bidang-bidang studi seperti kedokteran, astronomi, matematika, kaligrafi, puisi, sains, dan teknik.

Contohnya, Sutayta al-Mahamali. Ia adalah sosok yang multitalenta yang lebih dikenal sebagai pakar matematika, khususnya aritmatika. Bahkan menjadi salah satu ilmuwan yang berhasil memecahkan solusi sistem persamaan dalam matematika. Catatannya tentang sistem persamaan pun banyak dikutip oleh para matematikawan lainnya.

Zubaida binti Jafar al-Mansur (istri dari Khalifah kelima dinasti Abbasiyah, Harun al-Rasyid). Ia adalah sosok yang menjadi penggagas dibuatnya jalan raya penghubung antara Kufah dan Mekkah, yang bernama Darb Zubaidah (Arab: درب زبيدة‎). Jalan raya ini lebarnya sekitar 18 meter, yang membentang sejauh 1500 Km, dan sudah melayani perjalanan haji jutaan kaum muslimin selama berabad-abad. Di sepanjang jalan tersebut, ia membangun sumur-sumur air dan menara api untuk memberi penerangan ketika malam tiba.  .

Dalam tulisan “A Secret History” oleh Carla Daya yang diterbitkan di New York Times Magazine 25 Februari 2007, disebutkan bahwa ulama-ulama perempuan ini mencapai peringkat tinggi di semua bidang ilmu tentang Dien dan menjadi ahli hukum terkenal, mengeluarkan putusan-putusan Islam, menafsirkan Alquran, meriwayatkan hadits, bahkan memiliki keilmuan yang mampu menantang putusan hakim. Mereka banyak menulis buku tentang berbagai bidang dalam ilmu-ilmu Islam, kadang terdiri dari 10 volume atau lebih. Beberapa perguruan tinggi seperti Madrasah Saqlatunia di Kairo didanai dan dikelola sepenuhnya oleh perempuan. Ruth Roded, Dosen Senior tentang Sejarah Islam dan Timur Tengah di Universitas Ibrani Yerusalem mendokumentasikan bahwa proporsi dosen perempuan dibanyak perguruan tinggi Islam klasik lebih tinggi daripada di universitas-universitas Barat pada zaman modern ini.

Para ulama perempuan dalam Negara Khilafah yang pertama ini, menjalani kehidupan Islam sepenuhnya. Mengatur rumah tangga mereka, mengasuh anak-anak mereka, meraih predikat ulama, berpartisipasi dalam urusan masyarakat, menjadi advokat untuk keadilan, menyeru kepada kemakrufan, melarang kemungkaran, dan mengoreksi penguasa. Muhammad Nadwi Akram menulis, “Saya telah meneliti banyak materi selama lebih dari satu decade untuk mengkompilasi catatan biografi 8.000 Muhadditsat. Tidak seorangpun dari mereka dilaporkan telah menganggap rendah domain kehidupan keluarga, atau mengabaikan tugas-tugas di dalamnya, atau menganggap bahwa menjadi seorang perempuan adalah hal yang tidak diinginkan atau lebih rendah daripada menjadi seorang laki-laki, atau menganggap bahwa ia tidak punya tugas untuk masyarakat yang lebih luas di luar domain kehidupan keluarga.”

Contoh lainnya yaitu Lubna dari Andalusia. Ia adalah seorang penyair yang juga hidup pada abad ke 10 Masehi. Ia unggul dalam tata bahasa, retorika, matematika, dan kaligrafi. Ia adalah salah satu dari para sekretaris kepala di Negara Khilafah dan dipercayakan dengan korenspondensi resmi. Kaum perempuan dari keluarga Bani Zuhr adalah para dokter pada abad ke 12 M yang melayani Khalifah Abu Yusuf Yaqub al-Mansur. Pada abad ke 15 M dokter bedah asal Turki Serefeddin Sabuncuoglu menggambarkan para ahli bedah perempuan di Anatolia melakukan prosedur bedah pada pasien perempuan.

Semua ini didorong oleh implementasi hukum-hukum Islam dalam Negara Khilafah Islam yang mendorong warga negaranya baik laki-laki ataupun perempuan untuk mempelajari Islam dan dunia di sekitar mereka. Mendorong bersikap unggul dalam setiap bidang kehidupan untuk kepentingan masyarakat dan umat manusia. Negara Khilafah berprinsip memberikan nilai tinggi pendidikan kepada perempuan, memanfaatkan potensi perempuan, dan memastikan aspirasi pendidikan perempuan terpenuhi. Khilafah juga memprioritaskan penyediaan sistem pendidikan kelas satu untuk semua warganya, laki-laki dan perempuan. Tak lupa pula mendanai pendidikan tinggi yang gratis bagi laki-laki dan perempuan, dengan upaya terbaik yang dapat diberikannya.

Hanya implementasi sistem Allah swt di bawah naungan Khilafah yang bisa mencapai visi unik mewujudkan pendidikan perempuan yang memanfaatkan pemikiran dan keterampilan mereka untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, dan di sisi lain, menjamin perlindungan martabat dan keselamatan mereka.

 

Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS Ibrahim: 1)

%d blogger menyukai ini: