Peran Muslimah Dalam Pendidikan

Oleh: Rini Syafri

 

Peradaban Islam telah memberikan sumbangan luar biasa terhadap sejarah kehidupan manusia, khususnya pada aspek pendidikan.  Aspek yang begitu diperhatikan  Islam dan yang begitu bermakna bagi keberadaan manusia, sebagai satu-satunya makhluk yang Allah SWT karuniai akal.  Bahkan Allah mengutus Rasulullah SAW agar menjadi pendidik dalam makna memproses manusia menuju kesempurnaan yang diridhoi Allah SWT.

Sungguh mengagumkan, Islam pun memberikan ruang yang memadai kepada para muslimah untuk berkiprah di bidang pendidikan.  Tinta sejarah telah mencatat hal itu, dan di antara sosok-sosok mulia tersebut adalah:

  1. Ummul mukminin Khadijah binti Huwailid .r a (wafat 620 M), memainkan peran sentral dalam mendukung dan menyebarkan risalah Islam, sebagaimana tampak dari tutur Rasulullah SAW, yang artinya, “Allah SWT tidak tidak pernah memberiku pengganti yang lebih baik dari Khadijah. Ia beriman kepadaku ketika orang lain kufur, dia percaya padaku ketika orang mendustakanku; ia memberikan kekayaannya kepadaku saat tidak ada orang lain yang membantuku,…” (HR Bukhari, Ahmad, dan Thabrani).
  2. Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shidiqul Akbar, r.a. Kiprahnya dalam pendidikan begitu menonjol.  Beliau tercatat sebagai yang terbanyak meriwayatkan hadis dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu seperti ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab.  Setidaknya 1.210 hadist yang beliau riwayatkan disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim.  Hisyam bin Urwah pernah berkata: “Pada zamannya tidak ada orang yang menandingi Aisyah dalam tiga bidang ilmu yaitu: ilmu fiqh, ilmu pengobatan, dan ilmu syair”.

Sebelum abad ke lima Hijriyyah, pendidikan di dunia Islam dipusatkan di masjid-masjid. Para penuntut ilmu datang dari berbagai penjuru. Mereka diberikan tempat istirahat, nafkah dan dibangunkan rumah.  Di antara masjid tersebut adalah Masjid Al Umawi di Damaskus, dan Masjid Amru bin Al Ash di Fusthath Mesir. Selain sebagai pelajar, para muslimah juga menjadi  pendidik, di antaranya adalah:

  1. Ummu Darda, namanya Hujaimah binti Huyyi, adalah salah seorang dari sepuluh pengajar muslimah pada halaqh khusus di masjid Damaskus. Ia adalah pendidik sejumlah alim. Seperti Abdul Malik bin Marwan telah belajar ilmu padanya hingga menjadi Amirul Mukminin.
  2. Zainab binti Ahmad bin Abdurrahim (740 H) pengajar kitab Shahih Imam Muslim di Masjid Al Umawi Damaskus.
  3. Aisyah binti Muhammad bin Muslim Al Harani (736 H), pengajar di Masjid Al Umawi Damaskus. Dalam pengajarannnya antara lain ia meriwayatkan keutamaan-keutamaan waktu oleh Imam Al Baihaqi.

Peradaban Islam memperkenalkan sekolah sejak abad ke lima Hijriyyah, antara lain disebabkan banyaknya halqh yang memenuhi masjid.  Sekolah berjumlah sangat banyak, kaum perempuan menutut ilmu di sekolah sebagaimana kaum lelaki. Muslimah juga berkiprah sebagai pendiri sekolah-sekolah, seperti:

  1. Sayidah Rabi’ah Khatun binti Ayub, saudari Shalahuddin, mendirikan sekolah Shahabiyah untuk mengajarkan Mazhab Hambali di puncak Gunung Fasiyun di Damaskus.
  2. Fatimah Al Fihri, anak seorang saudagar kaya, pendiri madrasah yang sampai hari ini masih berfungsi sebagai University Al Quaraouiyine sebagai Universitas di dunia. Di Universitas ini juga ia dirikan perpustakaan yang merupakan perpustakaan tertua di dunia. Perpustakaan ini antara lain mengkoleksi lebih dari 4000 manuskrip.

Demikianlah sejumlah sosok muslimah yang berjasa dan berkontribusi pada aspek pendidikan.  Dedikasi mereka yang didukung sistem pendidikan Islam dalam bingkai institusi khilafah Islam benar-benar membawa mereka pada martabat para pendidik. Mereka turut andil mewujudkan peradaban Islam maupun saat membangun dan mengokohkannnya, ini di satu sisi.

Di sisi lain, aktivitas pendidikan yang dilingkupi sistem politik yang mendudukan perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga benar-benar menjamin kaum muslimah tetap dalam fitrah dan fungsi asalnya, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah, sungguh keadaan yang begitu menguntungkan.  Allah SWT berfirman, yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka beruntunglah mereka dan bagi mereka tempat kembali yang sebaik-baiknya.” (TQS ar Ra’d [13]: 29).

Sungguh jauh berbeda dengan keadaan hari ini, sehingga aspek ini saja menjadi kebutuhan dan kewajiban yang tidak dapat ditunda kembalinya khilafah Islam ke tengah-tengah kehidupan umat.  Sebagai satu-satunya jalan keberuntungan dan kemualiaan bagi para pendidik. Allahu A’lam.[]

%d blogger menyukai ini: