Peran Politik Perempuan Dalam Mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

 

“Perang salib” memang tidak pernah berakhir.  Barat akan selalu menganggap Islam ideologis sebagai macan tidur. Sekalipun belum mengejawantah dalam bentuk negara, Barat tak akan lengah dalam menciptakan proyek-proyek yang melenyapkan ruang bagi Islam politis untuk menjelma menjadi sebuah pemerintahan. Sehingga, yang dibutuhkan umat saat ini adalah kehadiran dan peran riil kutlah (kelompok dakwah) Islam ideologis yang mampu mengungkap kejahatan penjajah dan semua strategi yang dijalankan bersama kompradornya.  Kutlah ini harus mengambil peran dalam mencerahkan umat akan jaminan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin jika diterapkan secara kaaffah dalam kehidupan.

Atas dasar itulah, keberadaan kelompok dakwah harus tetap eksis hingga yaumul akhir nanti. Kelompok ini menghimpun umat –termasuk para perempuan- agar bersama merangkai tali-tali (syari’at) Islam yang telah lama terburai. Merekalah para pengemban dakwah, yang mewarisi pekerjaan para Nabi.  Tugas utama para pengemban dakwah , harus berada di tengah-tengah umat untuk memberikan kesadaran kepada mereka tentang Islam yang sebenarnya, sebagaimana tauladan yang diberikan Rasulullah SAW. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (TQS. al-Ahzab: 21)

Karena itu meneladani aktivitas Rasul dalam berdakwah harus menjadi perhatian yang tidak boleh dilewatkan bagi seorang pengemban dakwah. Dan diantara aktivitas dakwah yang beliau lakukan adalah melakukan interaksi dengan masyarakat secara intensif, mulai dari kalangan budak, pedagang, bahkan sampai kalangan para tokoh dan penguasa di masa itu.

Demikian pula para sahabat dalam meneladani Rasulullah. Adalah Mus’ab bin Umair yang memainkan peran penting dalam melakukan kontak ke para penguasa Madinah saat itu, yaitu Sa’ad bin Muadz. Dan melalui tangannyalah Islam diterima di tengah penduduk Madinah hingga Rasul akhirnya hijrah ke sana.

Karena itu yang mutlak diperlukan umat ini adalah memperbesar opini kemuliaan Islam dengan berdakwah secara ma’ruf sesuai dengan kaifiyah dakwah yang diajarkan dalam Alquran. “Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (TQS. an-Nahl: 125).  Dari ayat ini Allah memerintahkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah, mauidhah hasanah dan membantah dengan cara yang baik. Sama sekali tidak ada anjuran untuk melakukan dakwah melalui jalan kekerasan.

Dalam konteks saat ini, dakwah pun harus dilakukan dengan cara-cara yang elegan, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Kontak masif di seluruh kalangan perlu terus dilakukan. Disamping itu, kesolidan para sahabat dalam melakukan koordinasi dan komunikasi dakwah menjadi bagian terpenting dalam dakwah berjamaah. Tak lupa, taqarrub ilallah menjadi hal yang paling menonjol dalam aktivitas dakwah mereka. Oleh karena itu mutlak para pengemban dakwah harus memiliki karakter sebagaimana mereka.

Dan karena ‘perang salib’ tetap berlangsung, maka pergumulan ide lebih tepat untuk dilakukan saat ini, Bukan sekedar main tuduh, bukan juga dengan pembelaan diri dan bukan pula dengan menunjukkan bukti-bukti di depan pengadilan. Inilah realisasi dakwah yang sesungguhnya. Bertatap muka untuk berdiskusi menyampaikan kebenaran Islam, membuka cakrawala berpikir dan menyerang setiap pemikiran Kapitalisme sekuler saat ini.

Masa depan umat Islam adalah Khilafah Islamiyah jilid kedua yang tak lama lagi akan kita jelang. Khilafah merupakan pemerintahan negara yang akuntabel dengan kelengkapan struktur dan perangkatnya.  Di sanalah umat akan membantu negara mewujudkan peran politiknya secara optimal : menjalankan fungsi pelayanan terhadap masyarakat dalam mewujudkan kehidupan yang bermartabat dan menyejahterakan.  Keberkahan hidup dan keindahan penerapan syariat Allah sajalah yang menjadi filosofi dalam menjalankan hidup bernegara.

Peran politik umat akan berlanjut melalui keterpilihan wakil mereka dalam Majelis Umat.  Dalam struktur kekhilafahan, Majelis Umat benar-benar difungsikan sebagai penyambung suara rakyat kepada pemerintah.  Anggota Majelis Umat memiliki hak untuk memberikan pendapat kepada Khalifah dan para pejabat sesuai tatanan  syari’at.  Akuntabilitasnya dijamin oleh ketaqwaan individu dan mekanisme sistemik yang syar’i, sehingga tak perlu mengkuatirkan praktek-praktek kotor yang  biasa terjadi dalam hubungan penguasa dan wakil rakyat yang menjadi karakter demokrasi.  Sementara itu, gerakan politik dalam wujud partai politik tetap diakomodir oleh negara, bahkan keberadaanya diwajibkan demi memenuhi seruan Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 104.

Perang gagasan yang sedang berlangsung antara haq dan bathil belum akan mereda.  Walhasil, dakwah untuk memperjuangkan Islam politik pastilah memiliki resiko yang cukup berat. Dan semua itu hanya akan bisa diselesaikan melalui keyakinan akan pertolongan Allah hanya akan terjadi bila pengemban dakwah bersungguh-sungguh dalam aktifitasnya.  Tak boleh lelah dalam memberi pencerahan dan harapan kepada umat.  Dan itulah pula jalan satu-satunya untuk kebangkitan umat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi mengapa harus memilih jalan lain?

Demikianlah (seharusnya) peran yang dijalankan umat Islam, termasuk kaum perempuan sepanjang masa. Bukan peran yang sekedar menjalankan kehidupan seperti “aliran air”, tanpa mengalami benturan demi meningkatkan derajat ketaqwaannya.  Peran itu, dengan jenial dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Syakhshiyah Islam Jilid I.  Yakni peran yang didasari oleh kesadaran bahwa kaum muslim semestinya memandang kehidupan mereka hanya untuk Islam, dan keberadaan mereka hanya untuk mengemban dakwah Islam.  Karena, hanya dengan demikian seluruh manusia dan alam semesta akan merasakan kemuliaan, keagungan dan kerahmatan Islam.[]

%d blogger menyukai ini: