Perempuan Penyangga Peradaban, Bukan Korban Deradikalisasi

Oleh: Najmah Saiidah

 

Di tengah gencarnya seruan membendung ancaman radikalisme di negeri ini, mengemuka opini bahwa radikalisme telah mengancam kalangan pemuda bahkan anak-anak sekolah.  Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr. KH Nasarudin Umar, menyebut penyebarluasan paham radikal terorisme sudah masuk ke lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar dan menengah hingga perguruan tinggi (Warta kota, 30 Agustus 2017).  Kepala Puslitbang  I  Kemenag, Muharram Marzuki menilai bahwa kaum perempuan memiliki peran strategis dalam pencegahan radikalisme. “Membangun pemahaman kaum perempuan, khususnya para ibu, sebagai bagian inti keluarga, sangat penting. Apalagi saat ini wacana intoleran dan paham radikal atas nama agama semakin meluas dan terinternalisasi di masyarakat.”

Nampak jelas bahwa yang menjadi sorotan adalah kaum ibu, bahkan bisa dikatakan yang dipersalahkan pada akhirnya adalah keluarga, lebih tepatnya lagi para ibu.  Karenanya para ibu harus dibina.  Hanya saja yang harus dicermati adalah makna radikalisme itu sendiri yang justru saat ini menjadi abu-abu, sehingga mengajarkan Islam kaffah dianggap radikalisme.  Termasuk ketika anak akhirnya bisa menjelaskan bahwa yang dimaksud kafir adalah siapa saja yang bukan Muslim, ini dianggap sebagai  radikalisme.  Padahal penjelasan kafir dalam Alquran memang demikian.  Pada akhirnya para ibu yang dipersalahkan karena mengajarkan Islam ideologis kepada anak-anak.  Sungguh tuduhan yang menyakitkan dan tidak pada tempatnya, terlebih hal ini sungguh bertentangan dengan pemahaman Islam yang benar.  Karena Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum muslimin termasuk kaum muslimah untuk menyampaikan Islam kaffah, melalui dakwah Islam.

Sejak Rasulullah SAW diutus untuk menyebarluaskan risalah Islam, para muslimah generasi awal telah terlibat secara aktif dalam pergerakan dakwah bersama kaum muslimin lainnya untuk melakukan transformasi sosial, mengubah masyarakat jahiliyah yang menjadi masyarakat Islam. Mereka bahkan secara bersama merasakan pahit getirnya mengemban misi dakwah; melakukan perang pemikiran dan perjuangan politik di tengah-tengah masyarakat, hingga atas pertolongan Allah akhirnya berhasil membangun masyarakat Islam yang agung di Madinah, yakni masyarakat yang tegak di atas landasan aqidah dan hukum-hukum Islam.

Demikian halnya di masa Khulafaur-Rasyidin dan para khalifah sesudahnya, peran muslimah dalam kancah kehidupan, termasuk dalam percaturan politik tercatat demikian besar, baik dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, muhasabah (koreksi) terhadap penguasa, bahkan dalam aktivitas jihad.  Istimewanya  pada saat yang sama, merekapun mampu melaksanakan peran utamanya sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengelola rumah suaminya), mereka  berhasil mencetak generasi terbaik –generasi mujahid dan mujtahid- yang mampu membangun peradaban Islam yang tinggi, yang mengalahkan peradaban-peradaban lainnya di dunia dalam rentang waktu yang sangat panjang. Generasi demikian lahir dari ibu-ibu yang  paham Islam, yang mengajarkan Islam kaaffah kepada anak-anaknya, mengajarkan Islam sebagai ideologi yang lahir darinya aturan-aturan Islam yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan.  Tak heran jika umat Islam pada rentang tersebut betul-betul bisa tampil sebagai ‘khoiru ummah’, sebaik-baik umat, sesuai dengan janji Allah SWT :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 110)

Di masa Rasulullah SAW para shahabiyah melakukan aktivitas politik dan perjuangan politik tanpa meninggalkan peran strategis dan tugas utamanya sebagai ibu dan pengelola rumah suaminya.  Mereka berjuang bersama-sama Rasulullah SAW dan shahabat lainnya tanpa memisahkan barisan mereka dari barisan Rasul dan shahabatnya.  Mereka berada dalam perjuangan menegakkan Islam di muka bumi ini serta mendukung perjuangan beliau bersama suami dan anak-anak mereka.

Dalam Islam, perempuan diposisikan sebagai perhiasan berharga yang wajib dijaga dan dipelihara. Ini tidak berarti mengekang perempuan dalam wilayah tertentu.  Islam memberi peran bagi perempuan dalam ranah domestik dan juga publik sekaligus.  Dia adalah penyangga peradaban mulia.  Sejarah mencatat nama-nama besar semisal Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra, Fathimah Az-Zahra ra, Aisyah binti Abubakar ra, Sumayyah ra, Fathimah binti al-Khaththab ra, Ummu Jamil binti al-Khaththab ra., Ummu Syarik ra., dan lain-lain yang semenjak bersentuhan dengan Islam keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan dan ketinggian peradaban Islam. Mereka bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan dalam menjunjung tinggi syiar Islam, membela agama Allah dengan ketulusan yang tidak diragukan, mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam –yang direfleksikan dengan ketaatan kepada risalah yang dibawanya–, bersabar dengan segala kesulitan hidupnya, patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani, mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang baik hingga melahirkan pahlawan-pahlawan sejati yang dijamin masuk surga, merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela agama-Nya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fii sabilillaah demi meraih mardhatillah dan jannah-Nya.

Kini, sudah saatnya kaum muslimah menyadari bahwa dia adalah penyangga peradaban Islam, memiliki tanggungjawab yang sama dengan laki-laki untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat menuju peradaban mulia dengan menegakkan Islam kaffah. Wallahu a’lam bishawwab.[]

 

%d blogger menyukai ini: