Ibu di Balik Generasi Emas Pemimpin, Pejuang, dan Ulama Islam

Oleh: Arini Retnaningsih

 

Sejarah panjang masa keemasan Islam yang berlangsung dari awal tahun Hijriyah sampai sekitar 14 abad sesudahnya, diwarnai oleh banyak orang besar.  Para khalifah yang menorehkan namanya sebagai pemimpin terbaik saat itu. Para pejuang yang membawa Islam dalam kemenangan gemilang, tidak takut mati bahkan menjadikan mati sebagai tujuan tertinggi hidupnya. Para ulama yang berjuang dengan tinta dan pena mereka, yang karena merekalah kita mengenal dan bisa mempelajari Islam saat ini.

Di balik sosok-sosok hebat mereka, ada sosok-sosok yang tak kalah hebatnya.  Nama mereka memang tak diukir oleh sejarah, namun harum semerbak oleh prestasi yang ditorehkan anak-anak yang mereka lahirkan dan mereka bentuk. Merekalah para ibu teladan zaman.

Ibu-ibu tersebut, menggembleng anak-anaknya dengan iman, mengokohkan ketundukan mereka pada aturan Allah, dan menyemaikan bibit keberanian, pantang menyerah dan semangat untuk mengejar ridha Allah dalam perjuangannya.  Merekalah para ibu yang ‘radikal’, mengajarkan Islam secara fundamental.

Marilah kita lihat contoh-contoh radikalnya para ibu hebat ini.  Al Khanza, dikenal sebagai ibu para mujahid.  Empat anak laki-lakinya syahid bersamaan.  Mereka bertempur gagah berani berkat motivasi luar biasa yang ditanamkannya sebelum perang.  Ia berwasiat, “…Kalian semua tahu balasan besar yang telah Allah siapkan bagi seorang muslim dalam memerangi orang-orang yang kafir. Ketahuilah (anak-anakku), negeri yang kekal itu lebih baik dari tempat yang fana ini. Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan kepada Allah atas musuh-musuh-Nya”.

Usai peperangan, al-Khansa mencari kabar tentang putra-putranya. Kabar syahid anak-anaknya sampai kepadanya.Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap Rabbku mengumpulkanku bersama mereka dalam kasih sayang-Nya.”

Khaizuran, ibu Khalifah Harun Al Rasyid, adalah mantan budak yang dinikahi Khalifah Al Mahdi karena kecerdasan dan keluasan ilmunya.  Ia rela mendampingi anaknya mencari ilmu ke Madinah, jauh dari keluarga dan kehidupannya sebagai istri khalifah. Ia mendidik anak-anaknya sehingga layak menjadi seorang khalifah.

Ibu Sultan Muhammad al Fatih, mendidik dan memberikan motivasi pada anaknya setiap pagi. Setelah shalat subuh, sang ibunda mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia menanamkan keyakinan dalam diri Muhammad kecil, bahwa kelak ialah yang akan menaklukkannya. Dan benar, di usianya yang baru 21, ia berhasil memimpin pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel.

Para imam mazhab, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, ketiganya dibesarkan sebagai anak yatim. Begitupun perawi hadist terbesar Imam Bukhari.  Ibu mereka berjuang keras untuk mendidik mereka dan mengantarkan mereka pada ulama-ulama besar untuk belajar. Mereka rela mewakafkan anak-anak mereka pada agama.

Ibu dari Imam Taimiyah bahkan mengatakan dalam suratnya kepada sang putra :

“Demi Allah, seperti inilah caraku mendidikmu. Aku nadzarkan dirimu untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin.Aku didik engkau di atas syariat agama.Wahai anakku, jangan kau sangka, engkau berada di sisiku itu lebih aku cintai dibanding kedekatanmu pada agama, berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin.  Anakku, ridhaku kepadamu berbanding lurus dengan apa yang kau persembahkan untuk agamamu dan kaum muslimin. Sungguh –wahai ananda-, di hadapan Allah kelak aku tidak akan menanyakan keadaanmu, karena aku tahu dimana dirimu dan dalam keadaan seperti apa engkau. Yang akan kutanyakan dihadapan Allah kelak tentangmu –wahai Ahmad- sejauh mana khidmatmu kepada agama Allah dan saudara-saudaramu kaum muslimin”.

Inilah para ibu teladan zaman.  Mereka menanamkan fondasi agama yang kuat pada anak-anaknya sehingga mampu menjadi pemimpin, pejuang, dan ulama terbaik di zamannya.  Jika ibu-ibu tersebut dideradikalisasi, diarahkan untuk meninggalkan Islam ideologis dan politis, mencampakkan ajaran jihad, serta meminggirkan penerapan hukum Islam, akankah lahir para khalifah, pejuang dan ulama yang menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang umat Islam? Jawabannya pasti : tidak mungkin.  []

%d blogger menyukai ini: