Perempuan Berdaya dalam Mengembangkan Saintek pada Masa Kekhilafahan Islam

Oleh: Juanmartin,S.Si.,M.Kes

Kaum perempuan adalah tiang negara, baik tidaknya mereka sangat menentukan baiknya tidaknya suatu negara. Bagaimana tidak? Kaum perempuan memiliki peran urgen dalam mendidik generasi dan mempersiapkan mereka membangun peradaban. Sementara di sisi lain, kaum perempuan memiliki peran di sektor publik dalam melakukan amar ma’ruf nahy mungkar.

Kedua peran strategis nan agung tersebut pada akhirnya mewajibkan negara untuk memenuhi kebutuhan kaum perempuan akan pendidikan. Dalam sistem pemerintahan Islam, pendidikan dipandang sebagai kebutuhan primer yang wajib dipenuhi tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Hal tersebut memberikan peluang bagi siapapun untuk menuntut ilmu dan mendapatkan pahala disebabkan karena upaya mencari ilmu dan mengajarkannya.

Tidak mengherankan, pendidikan perempuan begitu berkembang pada masa kekhilafahan. Berbeda dengan saat ini, tingkat keilmuan yang dimiliki seorang perempuan kerap menjadi dalih untuk menggeser posisi kaum laki-laki. Padahal, baik laki-laki dan perempuan, perkara menuntut ilmu bukanlah perkara meninggikan superioritas gender. Bukankah ilmu seharusnya menjadikan seseorang kian merendah? Sehingga jelas, permasalahan pendidikan sama sekali tak ada kaitannya dengan ego sensitifitas gender.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu beberapa derajat” (Al-Mujadilah : 11). Nabi ﷺ sendiri telah memberikan perhatian serius terhadap pendidikan perempuan melalui kata-kata dan tindakan beliau sendiri. Aisya radhiya Allahu anha juga memuji perempuan yang mencari pengetahuan, “Para wanita terbaik adalah wanita dari Ansar, karena mereka adalah wanita yang tidak pernah malu untuk selalu belajar tentang agama”. (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah ﷺ juga mengajar laki-laki dan perempuan tentang Islam di masjid dan majelis umum lainnya tetapi juga menyisihkan waktu khusus untuk secara khusus mendidik perempuan dan menjawab pertanyaan mereka tentang agama.

Abu Sa’id al-Khudri radhiya Allahu anhu menceritakan bahwa beberapa wanita mengatakan kepada Nabi ﷺ, “Pria telah di depan kita (dalam hal akuisisi pengetahuan). Oleh karena itu, pilihlah hari khusus untuk kepentingan kami juga. “Nabi ﷺ lalu menetapkan satu hari untuk mereka. Beliau ﷺ akan menemui mereka pada hari itu, menyarankan mereka dan mendidik mereka tentang Perintah Allah subhanahu wa ta’ala”. (HR Al-Bukhari).

Dalam sistem kekhilafahan, kaum perempuan mampu mengakses pendidikan di rumah, di sekolah, masjid, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga lainnya dari laki-laki dan juga guru perempuan. Akibatnya, lahirlah ribuan ulama dan intelektual perempuan yang dihasilkan dalam sejarah negara mulia yang menerapkan hukum syariah Islam.

Mohammed Akram (seorang cendekiawan Islam India modern) memulai penelitiannya delapan tahun lalu pada satu volume kamus biografi ulama hadits perempuan, sebuah proyek yang membawanya berpetualang melalui kamus biografi, teks-teks klasik, sejarah madrasah dan surat untuk kutipan yang relevan.

“Saya pikir saya akan menemukan mungkin 20 atau 30 perempuan,” katanya. Sampai saat ini, ia telah menemukan 8.000 dari mereka, selama kembali ke 1.400 tahun silam, dan kamusnya sekarang telah menjadi 40 jilid …. ”Disarikan dari “A Secret History” oleh Carla Daya diterbitkan d majalah New York Times, 25 Februari 2007.

Ruth Roded, Dosen Senior di Sejarah Islam dan Timur Tengah di Universitas Ibrani Yerusalem menyatakan bahwa dalam dokumen sejarah dinyatakan bahwa proporsi dosen perempuan di banyak perguruan tinggi Islam klasik lebih tinggi daripada proporsi dosen perempuan di universitas-universitas Barat saat ini.

Di bawah sistem Khilafah, wanita juga unggul dalam bidang-bidang studi seperti kedokteran, astronomi, matematika, kaligrafi, puisi, sains dan teknik. Misalnya, Labana dari Cordoba adalah seorang ahli dalam matematika dan sastra di abad ke-10 masehi. Dia mampu memecahkan masalah geometri dan aljabar yang paling kompleks dan pengetahuan luas dari literatur umum diperoleh pekerjaannya sebagai sekretaris Khalifah, al-Hakem II.

Mariam “al-Asturlabi” Al-Ijilya adalah seorang ilmuwan dan penemu di abad ke-10 masehi. Dia merancang astrolube yang digunakan dalam astronomi untuk menentukan posisi matahari, planet-planet dan navigasi. Desainnya sangat inovatif sehingga ia dipekerjakan oleh penguasa kota di mana dia tinggal. Fakhr al-Nisa Umm Muhammad Shuhdah adalah spesialis abad ke-12 masehi di bidang Kaligrafi. Dia menulis untuk Khalifah al-Muqtafi. Dikatakan bahwa pada waktunya tidak ada orang di Baghdad yang bisa menyamai keunggulan tulisannya.

Perempuan dari keluarga Bani Zuhr adalah dokter yang bertugas abad ke-12 masehi di masa kekuasaan Khalifah Abu Yusuf Yaqub al-Mansur, dimana pada abad ke-15 seorang dokter bedah Turki Serefeddin Sabuncuoglu menjelaskan bahwa terdapat seorang ahli bedah perempuan di Anatolia yang melakukan prosedur bedah pada pasien wanita. Di bawah pemerintahan Islam, terdapat pula seorang seniman kaligrafi wanita dari Spanyol ke Suriah, Irak ke India yang mempraktekkan seni menyalin Al Qur’an. Dikabarkan bahwa di Timur Cordoba saja ada 170 ahli kaligrafi perempuan yang menyalin Qur’an dalam naskah Kufi.

Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada Allah subhanahu wa ta’ala tertanam pada diri perempuan di bawah pemerintahan Islam, yang mendorong banyak dari mereka untuk menghabiskan uang mereka sendiri untuk membangun gedung sekolah, universitas dan lembaga lainnya untuk menyediakan pendidikan bagi orang lain semata mengharapkan imbalan di akhirat dari hal tersebut.

Sebagai contoh ialah Umm ul-Banin Fatimah yang membangun madrasah pertama bagi anak perempuan di 245 H (859 masehi). Dia terus menerus berpuasa semenjak hari diletakkannya fondasi awal bangunan tersebut sampai bangunan itu selesai. Serta Universitas Fatima Al-Fihri yang didirikan pada tahun 859 masehi di Fez, Maroko, yang sekarang dikenal sebagai universitas pemberian gelar-pertama di dunia, Masjid Qarawiyyin dan madrasah, dimana ia menghabiskan seluruh warisannya dalam proses pembangunannya, hingga ia tetap berpuasa sampai bangunan itu didirikan. Ini menjadi salah satu pusat pendidikan paling bergengsi dan penting bagi pendidikan di dunia.

Para intelektual muslimah ini menjalani kehidupan Islam yang kaffah, mengelola rumah tangga mereka, mengasuh anak-anak mereka, menerima beasiswa, berpartisipasi dalam urusan masyarakat, tegas membela untuk keadilan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang Munkar, dan memuhasabahi penguasa. Tak ada perasaan merasa superir atas kaum laki-laki dengan prestasi gemilang mereka. Sebab mereka memahami, cukuplah Allah sebaik-baik pemberi balasan. Wallaahu a’lam.[]

%d blogger menyukai ini: