Perempuan: Tonggak Peradaban!

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd. (Penulis, Motivator, dan Pemerhati Remaja)

Isu feminisme dan kesetaraan gender kembali menguat. Bersamaan dengan maraknya aksi Womens March atau Pawai Perempuan di beberapa negara termasuk Indonesia. Agenda ini booming menjelang peringatan hari Perempuan Internasional yang resmi diperingati setiap 8 Maret sejak 1900-an. Tuntutan dari kaum hawa di momen ini tidak jauh berbeda setiap tahunnya. Meski belakangan ini tuntutan aksi mulai berkembang, namun tetap saja berkutat pada persoalan feminisme dan kesetaraan gender. Di Indonesia misalnya, aksi Womens March tahun ini mengusung isu kekerasan terhadap kelompok LGBT, perlindungan atas pekerja rumah tangga, dan buruh migran, pernikahan usia anak, kekerasan dalam pacaran, dan perlindungan terhadap pekerja seks.

Di tingkat kebijakan, aksi ini juga mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Pekerja Rumah Tangga, serta mengkritik Rancangan KUHP yang dinilai bermasalah karena adanya perluasan pasal soal zina dan larangan distribusi alat kontrasepsi atau pendidikan kesehatan reproduksi. (Voxpop Indonesia, 04/03/18)

Jika mencermati berbagai tuntutan dalam aksi tahunan ini, terlihat jelas bahwa ada misi besar yang ingin dicapai. Tuntutan yang ada bukanlah semata dari hati nurani para perempuan. Namun, lebih terlihat ada propaganda jahat di balik ide-ide yang gencar dilantangkan. Ya, aksi ini kental dengan upaya sekulerisasi dan liberalisasi di kalangan hawa. Tentu, hal ini menjadi ancaman bahkan membahayakan. Bukan hanya bagi kaum perempuan, tapi juga bagi peradaban suatu bangsa bahkan dunia.

 

Nasib Hawa di 107 Tahun Peringatan Hari Perempuan Internasional

Tidak dipungkiri, persoalan hidup saat ini terasa semakin menghimpit. Tanpa terkecuali persoalan yang menimpa kaum perempuan. Sebenarnya, secara naluri tuntutan kaum hawa tidaklah neko-neko. Kaum perempuan hanya ingin hidup layak dan bahagia sebagai manusia. Dihargai, dimengerti, disayangi, dimuliakan, dan dihormati. Demikianlah fitrahnya. Jika itu semua telah didapatkan, maka dunia damai bagi perempuan. Betul begitu, kan?!

Sayangnya, fitrah suci tersebut disabotase oleh kaum feminis yang lahir dari kelamnya peradaban Barat. Para feminis ini melontarkan berbagai argumen yang seolah layak dijadikan harapan. Padahal, apa yang mereka jajakan tidak lain adalah paham sekuler dan liberal. Paham yang sejatinya menjadi sumber penderitaan bagi kehidupan juga bagi perempuan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sekulerisme adalah paham yang tidak menghendaki aturan agama (Islam) di ranah kehidupan. Adapun liberalisme, adalah buah busuk dari paham tersebut. Kebebasan yang lahir akibat keengganan pada aturan Tuhan. Karenanya, jika kehidupan ini dipandang dari kacamata kebebasan maka tidak ada yang terjadi kecuali hidup bak di hutan rimba. Akan ada penindasan, penderitaan, dan penzaliman. Inilah konsekuensi real dari paham sekuler dan liberal. Derita!

Maka aneh jika sumber derita tersebut disodorkan sebagai solusi persoalan perempuan. Tidak akan pernah usai, perempuan justru semakin terbenam dalam lumpur kenistaan. Sebagai contoh, tuntutan persamaan gender. Di mana pada akhirnya terjadi kompetisi antara laki-laki dan perempuan. Hubungan yang terjalin bukan lagi dalam rangka membersamai untuk saling melengkapi. Tapi berubah menjadi persaingan yang berujung pada status ”atasan” atau ”bawahan”.

Jika sudah seperti ini, wajar saja para perempuan berlomba mengejar prestise. Seolah bangga, kaum hawa unjuk kekuatan bahwa mereka juga bisa melakukan apa yang laki-laki lakukan. Tanpa sadar, yang demikian itu justru telah menariknya dari kodrat mulia sebagai wanita. Tidak dapat dielakkan, perceraian pun melonjak setiap tahunnya. Urusan domestik dipandang sebelah mata. Anak-anak yang terlahir dari rahimnya, hampir tidak pernah berada dalam pengawasan dan penjagaannya secara utuh. Tunas-tunas penerus peradaban pun tumbuh dalam kegamangan. Berkembang dalam kepungan kebebasan. Berakhir pada kehancuran. Inikah yang disebut kebahagiaan?!  Sungguh mengerikan!

Setali tiga uang dengan tuntutan-tuntutan feminis yang lainnya. Jika masih berpijak pada sekulerisme dan liberalisme maka bahagia hakiki bagi kaum hawa hanyalah mimpi. Sebagaimana saat ini, di tahun ke 107 peringatan hari Perempuan Internasional, derita hawa tidak jua sirna. Sebaliknya, jurang persoalan justru semakin menganga. Perempuan justru dibenamkan semakin dalam untuk menjadi komoditas yang diperjual-belikan bak barang. Kelembutannya dimanfaatkan oleh para pemegang kepentingan untuk merayu dan menjerat rival-rival mereka. Kelemahannya diintai untuk menjadi sasaran penindasan dan perlakuan keji lainnya atas nama kebebasan.

 

Kemuliaan untuk Kaum Perempuan

Perempuan diciptakan penuh keindahan. Mengalirkan nafas harapan bagi masa depan kehidupan. Hadirnya bukan untuk menyaingi, tapi lebih untuk membersamai kaum lelaki. Keduanya memiliki garis fitrah yang berbeda. Bukan hanya fisik, tapi juga psikologi. Karena itu, sudah pasti berbeda peran keduanya  dalam kehidupan. Namun sekali lagi, hal ini bukan berarti diskriminasi. Tepatnya, ini adalah harmonisasi yang dirancang apik oleh Illahi.

Allah SWT. yang maha menciptakan sekaligus maha menitahkan aturan telah menggariskan hal yang demikian. Bahwa ada hak atau kewajiban tertentu bagi perempuan yang itu tidak berlaku bagi laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh, fitrahnya perempuan dapat melahirkan dan menyusui. Sedangkan laki-laki tidak. Demikian pula laki-laki berkewajiban mencari nafkah, sedangkan bagi perempuan sebatas mubah. Perhatikan, betapa zalimnya jika hak dan kewajiban harus dipandang sama rata antara laki-laki dan perempuan. Mendorong kaum perempuan untuk  mengangkangi  ranahnya laki-laki, sama artinya memaksa ikan berenang di padang sahara. Mustahil ada kemaslahatan!

Perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga. Makhluk berhati lembut ini memiliki kedudukan yang mulia. Bahkan perempuan, digadang-gadang sebagai juru kunci yang akan menentukan warna dunia. Demikianlah pandangan Islam bagi perempuan. Allah SWT. menggariskan kaum hawa sebagai penentu peradaban. Kewajiban yang tersemat bagi seorang wanita, alumm wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dan ummu ajyal (ibu generasi) yang dijalankannya  dalam lingkup yang lebih strategis, berpadu dengan perannya sebagai da’iyah dan pengemban dakwah.

Karena itu, seorang perempuan dalam pandangan Islam harus dijaga kehormatannya. Dijamin pendidikannya, kebutuhannya, bahkan kebahagiaannya agar kewajiban yang ada di pundaknya dapat terwujud sempurna. Penjagaan dan penjaminan yang baik bagi seorang perempuan, akan melahirkan generasi-generasi cemerlang. Generasi kuat, cerdas, beriman, dan bertakwa yang akan mengukir peradaban agung. Peradaban yang memanusiakan manusia tanpa mempermasalahkan gendernya.

Inilah puncak kebahagian dan kemuliaan hakiki bagi perempuan: menjadi tonggak peradaban! Melahirkan dan mempersiapkan generasi terbaik untuk masa depan. Hal ini tentu tidak akan terwujud dalam kubangan sekulerisme dan liberalisme. Oleh karena itu, sudah saatnya perempuan bangkit dan mencampakkan jargon-jargon feminisme yang menyesatkan. Sekarang masanya, kaum perempuan menentukan jalan kehidupan sesuai aturan-Nya. Agar tidak larut dalam pusaran derita akibat hawa nafsu yang jumawa. Lebih dari itu, agar kaum perempuan dapat mereguk manisnya kemuliaan sebagai tonggak dari peradaban. Wallahu a’lam.[]

%d blogger menyukai ini: