Stop Provokasi Ide Gender Terhadap Muslimah

Oleh: Ratu Erma Rachmayanti

 

Saatnya muslimah peka, sadar, faham, dan cerdas politik Islam.  Hal ini penting agar muslimah mengetahui akar masalah yang menimpa dirinya dan memahami cara untuk menyelesaikannya.  Selama ini perempuan di’cekoki’ analisa bahwa peristiwa kekerasan seksual, kemiskinan, diskriminasi layanan publik, dan sebagainya karena belum diadopsinya ide kesetaraan gender oleh para pengambil kebijakan, khususnya laki-laki. Lambatnya adopsi ide ini pun disinyalir karena adanya faktor budaya dan hukum agama yang menghambat.  Para perempuan, khususnya muslimah tidak kunjung mencapai posisi sejajar dengan laki-laki dan bebas berkiprah di publik, karena di’ikat’ oleh budaya aturan agama yang masih dipegangnya.

Hingga hari ini, ide yang datang dari pemikiran liberal ini masih dijajakan ke tengah muslimah. Tak sedikit yang mengambilnya sebagai solusi persoalan perempuan.  Akibatnya perjuangan para muslimah semakin menjauh dari jalan benar yang akan menyampaikannya pada posisi hakiki perempuan.

Ide kesetaraan gender diilhami dari fakta adanya pembedaan hak perempuan di masyarakat kapitalis Barat sejak masa silam.  Ideologi Barat yang sekuler menempatkan perempuan sebagai barang, obyek eksploitasi laki-laki, pemuas syahwat semata, tidak punya hak suara, hak mengelola hartanya, hak pendidikan, dan sebagainya.  Kaum perempuan kala itu memberontak dan menuntut hak mereka dengan women’s liberation movement atau feminist movement di AS, UK, Ireland, sepanjang tahun 60-70 an.  Hingga hari ini, apa yang dituntut mereka di negerinya masing-masing tak kunjung terpenuhi dengan ideal, hanya sebagian saja.  Sekarang mereka punya hak suara, dengan terlibat dalam Pemilu, namun untuk jumlah gaji, kenyamanan di tempat kerja, akses di politik, terjaga dari kekerasan seksual, dan sebagainya masih jadi tuntutan yang belum tuntas.  Ide gender yang dianut sekian puluh tahun tak bisa menyelesaikan masalahnya.

Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbesar, mengadopsi sistem demokrasi liberal dan kapitalis sekuler.  Ia pun menjadi wilayah propaganda ide ini. Sama halnya dengan negara penyebarnya, alih-alih menyelesaikan masalah perempuan, yang terjadi justru sebaliknya, pembunuhan, kekerasan seksual, penganiayaan, kemiskinan, jumlahnya bertambah. Ini harus dievaluasi, seefektif apakah program pemberdayaan perempuan dalam ekonomi dan politik dengan dalih untuk kesetaraan gender guna menyelesaikan persoalan perempuan ini berjalan?

Bagi muslimah, sudah seharusnya menstandarkan segala hal dan peristiwa dengan sudut pandangan Islam.  Dengannya, ia akan mengerti penyebab sebenarnya kondisi buruk yang menimpa dirinya, keluarga, masyarakat, dan juga bangsanya. Dengan pandangan mendalam, ia akan melihat begitu banyaknya kejadian yang bertentangan dengan syari’at Islam. Bukankah Islam melarang pembunuhan dan pemerkosaan perempuan dan anak? Bukanlah Islam membenci kekerasan dalam rumah tangga? Sebab Islam mewajibkan mu’asyaroh bil ma’ruf atau pergaulan yang baik dalam keluarga. Bukankah Islam melarang pelecehan seksual, memerintahkan laki-laki menjaga pandangan dan melindungi kehormatan perempuan? Lantas mengapa  begitu banyak muslimah dieksploitasi di tempat kerja, sementara Islam tidak mewajibkan wanita mencari nafkah, dan justru mewajibkan laki-laki menafkahi perempuan, dan lain sebagainya.

Ini artinya bahwa, persoalan perempuan itu bukan karena adanya syari’ah Islam. Justru Islamlah yang menetapkan perintah dan hukum-hukum yang memuliakan perempuan dan menjauhkan mereka dari segala keburukan. Fakta seperti ini telah dibuktikan oleh sejarah Islam dalam waktu yang panjang.  Seperti pembebasan muslimah yang ditawan raja Amuria yang dilakukan tentara Muslim perintah dari Khalifah Al-Mu’tashim Billah.  Dan dibunuhnya seorang Yahudi atas perintah Rasulullah karena ia telah membunuh seorang Muslim yang membela kehormatan muslimah yang diganggu Yahudi.  Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sementara itu, ide gender mendikte para muslimah bahwa penyebab buruknya kondisi perempuan adalah pemahaman agama yang menempatkan istri lebih rendah dari suami, membatasi gerak perempuan hanya di rumah, melarang perempuan menjadi pemimpin, melarang bekerja untuk mendapat status ekonomi yang baik, dan sebagainya.

Wahai muslimah, sadarlah bahwa penyebab kondisi buruk kita semua bukanlah pemahaman agama, melainkan pelaksanaan hukum politik, ekonomi, sosial – budaya yang liberal – sekuler yang membuang agama menjadi pengatur urusan kita. Di sinilah urgensinya kita mengerti politik Islam, yaitu pengaturan urusan kebutuhan manusia sesuai syariah Islam yang berasal dari Allah SWT.  Sementara ide kesetaraan gender yang dijajakan itu justru ingin mengkriminalkan aturan Allah SWT, Rabb alam semesta yang selama ini kita beribadah kepadanya.  Hakikatnya propagandis gender itu hendak berkata: “Hai Muslimah, lawan Syari’ah Islam, lawan Tuhanmu”.  Na’udzubillah min dzalika. Karena itu, saatnya muslimah bergerak untuk menghentikan tuduhan palsu dan mengeluarkan racun yang dibalut dengan madu dalam slogan-slogan palsu para penjaja kebebasan.[]

%d blogger menyukai ini: