Menghentikan Kekerasan terhadap Perempuan Bukan dengan Mengaruskan Agenda Global

Berita:

Dalam catatan tahunannya, Komnas Perempuan menyoroti ada bentuk-bentuk kekerasan ‘baru’ karena dinilai sebagai peningkatan dari berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan yang banyak terjadi selama ini.

Pada laporan tahunannya, Komnas Perempuan mencatat ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani selama 2017. Sebagai perbandingan, pada 2016, tercatat ada 259.150 kasus kekerasan.

Sumber berita: Hari Perempuan Internasional 2018: Inses, Kekerasan Dunia Maya, dan Pembunuhan Perempuan

 

Komentar:

Catatan tahunan yang dikeluarkan Komnas Perempuan tentang bentuk kekerasan ‘baru’ terhadap perempuan sebenarnya bukanlah hal baru.  Komnas perempuan mengikuti arahan UN Women untuk menyebarluaskan kampanye EVAW (End Violence Againts Women).  Tampaknya, kampanye yang sudah berjalan bertahun-tahun ini sulit menuai keberhasilan, terutama di dunia Islam.  Padahal tujuannya jelas.  Framing terhadap syari’at Islam yang selalu mereka sudutkan sebagai  ajaran diskriminatif terhadap perempuan.

Target politis yang diharapkan dari blow up kasus kekerasan lagi itu salah satunya adalah mendesak DPR untuk maju dalam pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sejak 2016 masuk Prolegnas. Stigmatisasi syariat Islam amat kental pada Pasal 7 RUU tersebut pada sub Kontrol Seksual.  Kontrol seksual sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) RUU itu di antaranya pemaksaan menggunakan atau tidak menggunakan busana tertentu.  Siapapun akan mengerti jika ayat ini dialamatkan pada ketentuan syari’at Islam yang dianggap memaksa perempuan berpakaian sesuai identitas tertentu.

Bukankah tindakan itu sangat keji?  Mengkriminalisasi hukum Allah SWT -sebagai pencipta mereka- ?  Menghujat ketentuan Alquran dan Alhadis yang membahas keharusan muslimah menutup auratnya.  Alasannya hanya satu.  Takut gerakan kebangkitan umat Islam untuk kembali pada syariatnya ini kian berkembang menjadi  gerakan politik.  Padahal, jika para feminis dan humanis pemuja HAM itu mau berpikir jernih, mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa segala kekerasan yang menimpa anak-anak, perempuan atau kelompok marginal lainnya itu terjadi akibat ide liberal yang mereka adopsi mentah-mentah dan dijadikan standar dalam berperilaku.  Akibatnya manusia tidak takut untuk berlaku kriminal, hanya demi memuaskan ego dan kesenangannya.

Karenanya,  mereka harus berhenti mengaruskan ide liberal yang hanya membawa kemudaratan dalam kehidupannya.  Semoga mereka mau berpikir dan kembali pada tuntunan yang benar.  Tuntunan syari’at Islam yang tidak pernah memenjarakan perempuan seperti tuduhan mereka.

 

Pratma Julia Sunjandari

Pemerhati Kebijakan Politik

%d blogger menyukai ini: