Komodifikasi Perempuan dalam Media Kapitalis

Oleh: Iffah Ainur Rochmah

 

Media massa bukanlah produk bebas nilai. Semua produk media  membawa nilai-nilai dan  mengajarkan gaya hidup (life style) tertentu, yang bersumber dari ideologi pihak yang melahirkannya (produser) atau sesuai apa yang dikehendaki oleh  masyarakat yang menjadi pasarnya (konsumen) dan  yang dibolehkan keberadaannya oleh negara yang menaunginya. Karena itu bagaimana potret perempuan dalam media saat ini adalah cerminan dari perlakuan sistem kapitalisme terhadap perempuan.

Beragam  produk media  dewasa ini yang berisi hiburan yang melenakan dan menumpulkan akal, mengeksploitasi perempuan layaknya barang yang dihargai sebab kemolekan fisiknya dan habis-habisan memuja seks adalah perwujudan pandangan sistem kapitalisme yang mendasarkan pada faham kebebasan (freedom) untuk meraup untung sebesar-besarnya.  Praktisi senior media Ashadi Siregar mensifati  media saat ini dengan sebutan “3 K oriented”  yakni berorientasi  Konflik, Kantong (uang), dan Kelamin (seks). Tak heran  hampir seluruh produk media  didominasi konten  kekerasan, pornografi, seks bebas dan  hiburan yang melenakan demi meraup sebanyak-banyaknya uang.  Media juga membenarkan perempuan menjadi obyek seksual melalui iklan, hiburan dan prostitusi  online.

Perempuan dalam  iklan media  adalah gambaran lengkap untuk melihat bagaimana  perlakuan sistem hari ini terhadap perempuan. Potret perempuan dalam iklan media dipenuhi sosok yang mempertontonkan aurat di ruang publik sebagai penjaja krim pemutih,  kapstok produk fashion, dan tampilan erotis.  Kecantikan perempuan dieksploitasi sebagai  pendongkrak penjualan produk yang diiklankan. Dalam iklan media, perempuan digambarkan layaknya boneka sejalan mitos kecantikan dengan kulit bening, wajah bersinar tanpa kerut, gigi putih bak mutiara dan rambut selembut sutra. Iklan media juga mengasosiasikan bagian tubuh perempuan dengan keunggulan produk yang dijual. Jelas kepentingan munculnya perempuan dalam iklan tersebut  hanya untuk  menjadi obyek seksual laki-laki.

Demikianlah, perempuan  adalah komoditas ekonomi yang bisa dieksploitasi daya tarik fisiknya sebagai   cash- cows “sapi perah” dalam media sekuler kapitalis.  Perempuan juga adalah makhluk bodoh tanpa intelektualitas, hanya bisa memberi ‘manfaat’  berupa kecantikan fisik. Media kapitalis yang mengagungkan kebebasan ini  telah membuka kotak pandora yang berisi segala macam penyakit  berupa beragam bentuk kriminalitas yang makin mengerikan, kekerasan,  kerusakan fitrah manusia, menggoyahkan bangunan keluarga dan mengancam kehidupan generasi.

Semua harus diakhiri dengan pemberlakuan  Islam  dalam sebuah sistem Khilafah. Khilafah adalah negara yang berkhidmat melaksanakan seluruh hukum syara’ dan  menjadi pihak yang paling  bertanggung jawab terhadap hadirnya media yang mencerdaskan publik. Negara Khilafah menghadirkan potret perempuan melalui media sebagai kehormatan keluarga dan bangsa. Negara Khilafah akan mengerahkan segenap sumberdaya, teknologi, dan dana untuk memberantas tuntas media-media porno dan merusak lainnya.  Tidak ada perempuan dieksploitasi sebagai model atau pengiklan produk. Tidak dibiarkan perempuan merendahkan kehormatan dirinya dengan membuka aurat.

Media dalam sistem Islam menghadirkan gambaran  perempuan sukses adalah dengan menjadi insan yang banyak memberi manfaat sesuai tuntunan syariat, sebagai istri partner suami dan sebagai ibu dan pendidik generasi. Misi edukasi dalam produk media Islam juga terus diarahkan agar kaum ibu mampu  menjalankan fungsinya dengan  pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik. Tak luput dari media Islam adalah penggambaran sosok-sosok perempuan yang aktif berpolitik Islam mengubah kemunkaran dengan tuntunan syariat.  Berbeda sama sekali dengan potret yang dipaparkan oleh media sekuler yang menipu perempuan dengan gambaran menyesatkan pemberdayaan ala kapitalisme.

%d blogger menyukai ini: