Kota itu Bernama Ghouta

Oleh: Sari Muhartini (Anggota Revowriter)

 

Catatan Pembuka

Jika kita bertanya, apa nama kota yang paling dikenal dunia? Umum mereka akan menjawab bahwa Viena atau negeri Eropa lainnya jadi icon wisata yang melanglang buana, utama bagi mereka para traveler.

Jika kepada umat Islam ditanya, kota penting mana yang identik mengatasnamakan agama kita? Umum pula kita akan menjawab Mekah dan Madinah, itulah dua kota paling mengemuka muncul di lintasan kepala. Jika kemudian, ikhwah pergerakan ditanya, kota mana yang disebut Rasul shallallaahu ‘alayhi wasallam dalam bisyaroh penaklukan? Pasti semua sepakat kotanya Heraklius dan Roma, bukan?

Namun, adakah yang tahu, bahwa Rasul shallallaahu ‘alayhi wasallam menyebut nama satu kota, di sana akan terjadi peristiwa besar, sebagai indikasi dari rangkaian kejadian menuju akhir zaman: Ghouta?

Tentang Ghouta

Ya, apa yang terjadi di Ghouta hari ini, sebagaimana kita tahu di beberapa media, merupakan sebagian tanda akhir zaman yang telah disebutkan Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam sejak 1400 tahun yang lalu. Dan di tahun 2018, hal itu benar-benar terjadi. Kita menjadi saksi dari sekian kebenaran ucapan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Tidakkah akal kita makin pasti meyakini kebenaran al-Amin?

Dalam hadits, telah disebutkan sebagian tanda akhir zaman -yang di antaranya akan terjadi satu peristiwa besar di wilayah yang bernama Ghouta, Suriah-.

Dari Abu Darda radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Sesungguhnya tempat berlindung kaum Muslimin pada hari huru-hara adalah di Ghouta, sebelah kota yang disebut sebagai Damaskus. Tempat itu adalah salah satu tempat terbaik wilayah Syam.” (HR. Ahmad No. 21725, Abu Dawud No. 4298)

Allahummagfirlahuu, maka berarti waktu kiamat makin dekat, banyak tandanya di dekade ini begitu terbuka kita indra. Ghouta bukti lain, hari akan mendekati hari akhir kian dekat. Maka berarti, masa kehancuran peradaban dzalim menunggu hitungan tak lama, biidznillah.

Telah dekat terjadinya hari kiamat. Dan kamu menertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkannya?” (TQS An-Najm: 57, 60, 61).

Ghouta, Bukan Sekedar Kota

Syrian non violence movement mejelaskan, media luar Suriah sering memberitakan bahwa Ghouta seakan nama sebuah kota. Padahal bukan, baik bagian timur atau baratnya. Ghouta sebagai wilayah kegubernuran/provinsi adalah zona bio-geographis, suatu kawasan cincin hijau agrikultur yang mengitari Damaskus, dari timur hingga barat daya.

Sebagai kawasan hijau, banyak hasil pertanian dari Ghouta. Secara tradisional, Ghouta barat dan timur terdiri dari beberapa kota kecil. Dengan potensi alam demikian, sejatinya Ghouta tak beda seperti suburnya alam Indonesia. Wajar, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam menyebutnya sebagai tempat terbaik di Syam.

Sayang, serangan yang dilakukan milisi Rusia dan pemerintahannya sejak Minggu (18/2) membuat Ghouta yang hijau menjadi hitam. Hitam dengan kedukaan.

Sejauh mata memandang Ghouta yang diguyuri hujan rudal, bom, dan mortir nyaris hancur. Bangunan men‐ jadi rangka dengan serakan puing-puing di bawahnya, di sela-sela itu anak-anak dan warga Ghouta tertimbun, meregang nyawa. Adakah hati kita menyaksikan?

Setelah Allepo, Ghouta menambah deret perih konflik di Suriah. Sampai Sekjen PBB, Antonio Gutteres menggambarkan situasi disana sebagai, “Neraka di bumi.” Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Mengapa Harus Ghouta?

Dengan apa yang terjadi di sana, Ghouta ibarat penjara isolasi yang menenggelamkan warganya dalam kubangan darah dan air mata. Terisolasi sebab tentara Assad yang dibantu Rusia melarang warganya meninggalkan kota, sekali pun izin meninggalkan kota jadi sekedar gincu.

Lima ratus nyawa melayang dalam lima hari. Belum ribuan yang terluka. Menyakitkannya, semua fakta ini direspon penyangkalan oleh rezim Rusia. Selaku utusan Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia berujar, “Massa psikosis di media global bertindak dalam koordinasi, menyebarkan desas-desus yang sama dalam beberapa hari ini, sama sekali tidak membantu memperbaiki pemahaman soal situasi di sana.”

Dalih apa yang membenarkan kebijakan psikopat mereka? Hingga memveto DK PBB agar Rusia tak keras kepala melonggarkan tekananan selama 30 hari untuk gencatan senjata. Bahwa katanya karena Ghouta melindungi kelompok teroris yang harus diperangi. Entah itu yang mereka kenal sebagai Front Nusra, ISIS, atau al-Qaidah. Sementara istilah teroris sendiri masih abu-abu jadi legalitas Barat membantai umat Islam.

Jelasnya, dihancurkannya kekuatan militan oposisi bagi Assad hingga ke akarnya adalah agar istananya terbebas dari ancaman tindakan sewenang-wenang ia menjadi boneka asing.

Ghouta, Dering Alarm Dunia

Tragedi yang tengah menimpa Ghouta, di bulan yang diakuisisi Barat dan pengekornya sebagai bulan kasih-sayang, nyatanya tak pernah ada untuk Muslim.

Tak ada belas kasih untuk Muslim. Merahnya darah warga sipil Ghouta nampaknya dipandang indah oleh manusia-manusia psikopat yang tuna dari kemanusiaan.

Kita yang Muslim, tidakkah terpanggil menolong mereka?

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allâh akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allâh menutupi (aib)nya pada hari Kiamat.”

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menegaskan dengan firmanNya dalam surat Al-Anfal ayat 72

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian (dalam urusan agama), maka wajib bagi kalian menolong…”

Dari dalil di atas nyata bahwa ada beban kewajiban tersandar di pundak kaum Muslim, khusus negeri Muslim terdekat membebaskan saudara Muslim yang meminta pertolongan.

Tidakkah sayup terdengar jeritan Muslim Ghouta menalu gendang telinga kita?

Ataukah malah justru suara pilunya terhalang oleh pikiran keliru? Bahwa, “Masalah Suriah bukan masalah kita, bukan masalah Indonesia yang juga sarat dengan masalah.”

Lantas di mana kita pertanggungjawabkan terang-benderangnya dalil di atas?

Ada opini yang menyebut konflik Suriah bukan semata masalah agama, melainkan konflik politik dalam negeri? Ini hoax keterlaluan, apalagi disuarakan seorang yang di dadanya telah bersyahadat. Perlu kiranya atas kita memahami fakta umat Islam di Suriah sekaligus mengoreksi sikap atas persoalan Muslim di mana pun letak geografis mereka.

Ghouta, Butuh Bantuan Nyata

Perlu kita tahu, tragedi yang menimpa saudara kita di Suriah telah berlangsung lebih dari delapan tahun. Tak bisa dinafikan, umat Muslim di seantero negeri banyak yang mengulurkan tangan, baik moril dan materil. Nasib Suriah senantiasa jadi hal menyempitkan hati. Bahkan menurut info lain, bantuan logistik pun sulit masuk ke lokasi yang membutuhkan.

Namun, apakah bantuan-bantuan demikian menjadi hal asasi yang bisa mengakhiri derita mereka? Bukankah problem itu ada untuk dicari solusi terbaik agar bisa berakhir? Angka 8 tahun menunjukkan menahunnya konflik di sana. Artinya, bantuan yang ada tak menjadi solusi hakiki.

Lantas apa yang jadi solusi hakiki? Kirimkan pasukan militer yang dimiliki negeri-negeri Muslim. Pasukan gabungan yang akan membebaskan mereka dari bulan-bulanan kafir penjajah.

Akar masalah yang terjadi adalah bahwa mereka, Muslim Suriah, atau Muslim di mana pun yang tengah tertindas, teraniaya, tidak memiliki pemimpin yang menjaga jiwa, kehormatan, dan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar mereka, di antaranya kebutuhan rasa aman.

Palestina, Rohingya, Xinziang, Kashmir, Pattani, atau Yaman misal, negeri Muslim yang hampir bernasib sama dengan Suriah.

Adakah pasukan militer yang mengembangkan perisainya untuk mereka? Ya, mungkin saja ada. Di hati terdalam para tentara Muslim. Namun apa daya, instruksi untuk mengirim pasukan bantuan tak pernah ada dari pemimpin mereka. Bahkan negeri Muslim terdekat mereka.

Yang ada hanyalah suara-suara kutukan yang banyak terdengar, itu pun tak lama gemanya, untuk kemudian tenggelam oleh kepentingan politik praktis masing-masing mereka.

Ada pun dengan berbagai perundingan damai atau gencatan senjata memang tak sepi dilakukan, namun dengan posisi umat Islam pada pihak teraniaya, hasilnya adalah ‘memaksa’ umat Islam mengalah dan menerima syarat yang diajukan pihak penganiaya yang notabene lebih kuat.

Karena itu, perlu kiranya wajib atas kita bersikap sebagai mukmin yang benar, bertawakkal kepada Allah, memecahkan masalah dengan kekuatan kita sendiri. Jika tidak, maka tak ada seorang pun yang akan menghormati darah, kehormatan, dan harta kita.

Khilafah, Solusi Alternatif Pamungkas

Tak kunjung selesainya penganiayaan umat Islam karena belum adanya pihak yang bisa menyelesaikannya dengan benar dan tuntas. Siapa yang bisa menyelesaikan dengan benar dan tuntas? Yaitu Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin an-Nubuwwah yang ke-2.

Mengapa hanya Khilafah yang bisa menyelesaikan masalah umat Islam? Karena:

  1. Khilafah adalah negara adidaya baru yang akan menaungi umat manusia dengan kebaikan dan kesejahteraan dengan penerapan hukum Syara’ yang adil. Lihat Q.S. An-Nuur ayat 55
  2. Khilafah akan menghentikan setiap penjajahan satu negeri/bangsa oleh bangsa lain. Tentara Khilafah akan membebaskan umat yang tertindas.“Sesungguhnya pemimpin itu adalah perisai. (Rakyat) akan berperang di belakangnya serta berlindung dengannya.”
  3. Tegaknya khilafah adalah kewajiban terpenting yang telah Allah wajibkan kepada Muslim dan muslimah.
  4. Khilafah adalah mahkota kewajiban yang akan menjamin pelaksanaan seluruh kewajiban lainnya. Tanpa Khilafah, penerapam syariah yang maslahatnya bisa dirasakan secara universal atas alam, manusia, dan kehidupan tak akan terwujud.

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS al-Hadid: 16).[]

%d blogger menyukai ini: