Suriah – Bagaimana Dunia Gagal Menyelamatkan Ghouta

“Kami berdiri di hadapan pembunuhan masal abad 21. Jika pembunuhan masal era 1990an adalah Srebrenica dan pembantaian era 1980an ada di Halabja, Sabra dan Shatila maka pembantaian Ghouta Timur sekarang adalah pembunuhan masal abad ini.”

Itu adalah kata-kata seorang dokter di Ghouta yang telah menyaksikan kekejaman paling buruk yang pernah terjadi selama perang bertahun-tahun di Suriah.

Gambar-gambar terkait kekejaman yang terjadi di Ghouta terus disoroti oleh dunia, gambaran semacam itu adalah kejadian sehari-hari di Ghouta.

Pekan lalu rezim Assad dengan dukungan Rusia memukul kembali Ghouta Timur (sebuah daerah pinggiran di Damaskus) dengan artileri, serangan udara dan bom barel. Ratusan penduduk sipil telah terbunuh.

Ghouta telah menjadi lokasi terakhir dari strategi Assad untuk mempertahankan rezimnya di Damaskus, yaitu untuk menyingkirkan tuntutan perubahan yang hakiki.

Ghouta adalah wilayah pertanian dengan populasi padat di pinggir Damaskus, jumlah penduduknya sebelum konflik adalah dua juta orang. Daerah ini hanya 30 menit dari pusat kota Damaskus, tempat rezim Assad memerintah.

Ketika protes dimulai pada 2011, Ghouta adalah salah satu daerah pertama di sekitar Damaskus yang menjadi tempat protes. Perlahan tempat ini menjadi basis dari kelompok pejuang, akibatnya rezim mengirimkan tentaranya karena tempat ini sangat dekat dengan pusat pemerintahan.

Meskipun demikian, daerah ini terus melawan atas serangan tersebut. Pada 2012 tentara Assad berhasil diusir, sebuah kelompok suburb dari pinggir Timur Damaskus juga ikut bergabung dengan penjuang lainnya dan sebagian dari mereka mulai menyerukan untuk mengambil alih Ibukota Suriah.

Rezim Merespon Pemberontakan dengan Ganas

Pada 21 Agustus 2013, pasukan pemerintah memborbardir Ghouta Timur dan membunuh lebih dari 1.500 penduduk baik laki-laki, perempuan dan anak-anak. Penyerangan ini berbeda dengan penyerangan di daerah lainnnya. Para dokter telah terbiasa untuk merawat luka-luka dan trauma. Namun, petugas medis yang kewalahan tidak tahu bagaimana mengobati pasien dengan cedera yang tak kasat mata.

Seluruh keluarga meninggal di atas tempat tidur mereka, dengan lingkaran hitam di sekitar mulut dan mata mereka. Mereka yang hidup menunjukkan wajah yang tertekuk karena menahan sakit yang luar biasa. Anak-anak berjatuhan seperti lalat di depan petugas medis ketika mereka dibawa keluar dari wilayah penyerangan.

Bashar Al-Assad telah melakukan serangan dengan senjata kimia untuk pertama kali, dengan menggunakan gas Sarin, zat kimia yang menyerang pusat sistem saraf.

Dengan bantuan Hizbullah dan Iran, Assad memboikot wilayah pinggiran tersebut dari luar dan memulai pengepungan panjang untuk ‘mencekik’ penduduknya sampai mati. Ghouta Timur telah menjadi daerah dengan pengepungan terlama dalam sejarah modern.

Kelompok pejuang bersenjata yang mengontrol Ghouta Timur terbagi menjadi dua: Jaish Al-Islam dan Failaq Ar-Rahman yang dibekingi oleh Saudi dan Qatar. Seperti kelompok pejuang lainnya yang disuplai oleh kekuatan asing, mereka tidak pernah diberikan senjata yang bisa mengubah peta kekuatan pertempuran.

Saudi Arabia tidak pernah memberikan misil penembak pesawat tempur yang bisa mengubah peta pertempuran melawan serangan udara Rusia dan Assad. Malah setelah pengepungan oleh rezim semakin massif, baik Saudi Arabia dan Qatar meninggalkan kelompok pejuang dan rakyat Ghouta.

Pola ini semakin akrab di seluruh penjuru negeri, di wilayah tempat kelompok-kelompok pejuang diberikan senjata. Banyak orang di Ghouta akhirnya percaya negeri-negeri tersebut sebenarnya berada di pihak rezim sejak awal.

Ghouta Timur perlahan menjadi bagian dari zona de-eskalasi (peredaman konflik) sejak pengepungan yang memenjarakan penduduknya. Meskipun pengumuman gencatan senjata dan kesepakatan peredaman telah dilakukan, rezim Assad tetap melakukan serangan darat dan udara terhadap penduduk sipil di Ghouta Timur. Bahkan dengan adanya pos pengecekan dan observasi, rezim Assad melanjutkan untuk memborbardir penduduk sipil.

Ketika rezim Assad membersihkan tempat yang dianggap sebagai kantung terakhir perlawanan, penguasa-penguasa Muslim di kawasan tersebut lagi-lagi menunjukkan wajah mereka sebenarnya.

Erdogan telah menunjukkan bahwa dia hanya akan menggerakkan tentaranya ketika bangsa Kurdi dalam masalah; penduduk Aleppo dan Ghouta tidaklah layak untuk mendapatkan intervensi militer negaranya.

Qatar dan Saudi Arabia pun hanya mempersenjatai kelompok pemberontak jika mereka melayani agenda AS, bukan ketika mereka dibantai. Monarki dan pemimpin-pemimpin ini hanya tertarik untuk menjaga tahta mereka sendiri, meskipun dibalut dengan retorika kesatuan Ummat.

Militer di negeri kaum muslimin harus bergerak untuk menghentikan pembantaian yang terjadi di Ghouta dan Suriah secara umum. Merekalah yang paling memiliki kapabilitas dan tanggung jawab besar untuk menjawab jeritan ratusan anak-anak tak berdosa yang dibantai tiap harinya.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (TQS: Al Anfal: 24).[] (MuslimahNewsID, 28/2/2018)

 

Diterjemahkan dari: www.hizb.org.uk

%d blogger menyukai ini: