Kemampuan Dokter Perempuan Utsmaniyah Diakui Barat

Prof Nil Sari, guru besar Fakultas Kedokteran Cerrahpahsa Universitas Istanbul, Turki dalam sebuah penelitiannya, mengungkapkan,

Pada saat itu, dokter perempuan juga tak hanya menangani pasien perempuan. “Kami memiliki arsip dokumen tentang pasien pria yang dioperasi oleh dua dokter perempuan,” ungkap Nil Sari. Pasien-pasien itu tinggal di tempat yang berbeda-beda, berjauhan satu dengan yang lainnya.

Kedua dokter perempuan itu tak memiliki kantor. Mereka berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya, lalu menetap di daerah itu untuk sementara ketika ada pasien yang harus ditangani. Dokter-dokter perempuan yang berpindah- pidah tempat itu suatu saat bisa menjadi dokter istana.

“Ketika pelayanan kesehatan di istana tak mampu menyembuhkan se orang wanita atau seorang anak sultan, dokter perempuan dari luar bisa di panggil ke istana,” papar Nil Sari. Berdasarkan dua dokumen yang terdapat di Istana Topkapi yang berasal dari pertengahan abad ke-17 M, dikisahkan tentang upaya kepala dokter Istana Cemalzade Mehmed Efendi yang mengundang seorang dokter perempuan terkemuka yang dikenal sebagai kejime kadin.

Dokter perempuan itu berasal dari Scutari. Sang dokter perempuan itu diundang ke Saray-i Atik, istana tua, untuk menyembuhkan tiga pasien perempuan bernama Ferniyaz Kalfa, Lalezar Kalfa, dan Nazenin Kalfa. “Dokter pria dan dokter perempuan pada masa itu benar-benar sangat dihormati,” ungkap Nil Sari.

Kiprah dan peran dokter perempuan di Kesultanan Ottoman juga dicatat oleh seorang duta besar Swedia bernama d’Ohsson pada abad ke-18 M. Ia juga menyebut dokter perempuan itu dengan nama hekimekadin. Menurut d’Ohsson, dokter perempuan di Turki itu kaya akan pengalaman, namun pengetahuannya tak terlalu luas. Menurut d’Ohsson, dokter perempuan pada era Turki Usmani juga berprofesi sebagai bidan.

Sementara itu, Ali Riza Bey mencatat, istana pernah mengundang seorang dokter perempuan bernama Meryem Kadin. Ia diundang secara khusus karena tim medis istana Turki Usmani tak mampu menyembuhkan Abdul mecid, putra mahkota yang akan mewarisi takhta pada awal abad ke-19 M.

“Dokter perempuan ini berhasil menyembuhkan Abdulmecid,” papar Ali Riza Bey. Sebagai hadiah, sang dokter perempuan diberikan gaji bulanan dan akses bebas untuk memasuki istana para selir. Menurut dia, kiprah para dokter perempuan di istana berlanjut hingga paruh kedua abad ke-19 M. Satu dari empat dokter Muslim di antara 10 dokter yang bekerja di Istana Yildiz pada 1872 M adalah seorang dokter perempuan bernama Tabibe Gulbeyaz Hatun. Ia bergaji 200 akces per bulannya.

Abdulaziz Bey mencatat, dalam tradisi Turki Usmani, para dokter perempuan kerap diundang ke istana untuk menghadiri beragam perayaan. Mereka juga diberikan penghargaan yang dikenal dengan sebutan Bairam.

Pada era kejayaan Turki Usmani, dokter-dokter perempuan yang disebut sebagai morti tabibe juga bekerja di kantor karantina. “Kami menemukan gaji mereka tercatat dalam daftar upah para pegawai karantina. Catatan itu diperoleh dalam sebuah dokumen bertarikh 1842 M,” ungkap Nil Sari yang juga kepala Etik Kedokteran dan Departemen Sejarah Istanbul University Sekolah Kedokteran Cerrahpasa.[] (republika.co.id, 01/03/2018)

%d blogger menyukai ini: