Bayi Karim Hidup di Bawah Tanah untuk Hindari Serangan Rezim Assad

Seorang wanita memegang bayi Syria, Karim, yang kehilangan mata kirinya dan ibunya selepas serangan rezim Assad di distrik Hammuriye, saat rezim mengepung pinggir kota Damsyik di Ghouta Timur, Syria pada 28 Disember 2017. Bayi Karim berisiko kehilangan mata kanannya.

Dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Bashar al-Assad di Suriah, “Bayi Karim” – yang kehilangan satu matanya setelah menjadi korban serangan udara – mencari perlindungan di bawah tanah.

Banyak warga sipil terpaksa harus mencari pengungsian bawah tanah karena banyaknya serangan udara yang dilakukan pasukan rezim dan Rusia di sekitar kawasan Ghouta Timur di Damaskus, Suriah.

Sejak kabar tentang Karim pertama diberitakan oleh Anadolu Agency, ribuan orang mengalirkan dukungan untuk bayi itu lewat kampanye media sosial.

“Saya membawa Karim dan saudara-saudaranya ke perlindungan bawah tanah. Karim sudah delapan hari di sana bersama banyak orang lainnya. Tidak ada yang ingin keluar karena serangan belum berhenti,” kata ayah Karim, Ebu Muhammed, kepada Anadolu Agency.

Di bawah tanah, tidak ada makanan, cahaya, listrik dan kehangatan, kata Ebu Muhammed. Mereka pun masih bisa mendengar suara pesawat-pesawat yang berseliweran di atas mereka.

Menurut kelompok pertahanan sipil Suriah White Helmets, jumlah korban tewas sudah lebih dari 400 orang dalam waktu seminggu saja karena meningkatnya serangan dari rezim Assad.

Dalam dua pekan terakhir, serangan rezim menargetkan 22 fasilitas kesehatan, sebuah masjid dan sebuah panti asuhan di Ghouta Timur.

Ghouta Timur terletak di kawasan de-eskalasi yang disetujui oleh Turki, Rusia dan Iran. Di wilayah itu khususnya, aksi serangan dan kekerasan tidak boleh dilakukan.

Pada Sabtu lalu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui resolusi gencatan senjata selama 30 hari di Ghouta Timur agar bisa menyampaikan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang membutuhkan.

Resolusi yang dirancang oleh Swedia dan Kuwait itu juga memohon agar evakuasi medis dilakukan kepada sekitar 700 orang.

Ghouta Timur ditempati sekitar 400.000 penduduk dan berada di bawah cengkeraman rezim selama lima tahun terakhir.[] (aa.com.tr, 1/3/2018)

%d blogger menyukai ini: