Kembali kepada Islam secara Kaffah

Muslimahnews.com – Pamekasan. Pesta demokrasi akan segera kembali digelar. Akan ada banyak hal yang dapat menipu umat dan seakan-akan sesuai dengan islam. Menyelewengkan kaidah-kaidah usul fiqih demi memenangkan partai-partainya. Demikian pemaparan Ustadzah Rif’ah Khalidah Wahyuni dalam Forum Silaturahmi Muballighah dan Ustadzah se-Madura di salah satu Pondok Pesantren di Pamekasan, Madura pada Jum’at (2/1/2018).

“Daripada orang Islam dipimpin oleh orang kafir, lebih baik dipimpin orang Islam meskipun dzalim. Ini pilihan-pilihan yang menipu, seakan-akan itu benar adanya,” terang Ustadzah Rif’ah di hadapan tidak kurang dari 60 orang peserta dari kalangan bu nyai pemangku pondok pesantren, ustadzah, pimpinan majelis taklim serta tokoh masyarakat se-Madura.

Padahal dalam Islam, hukum memilih sendiri itu adalah mubah, bukan wajib. Faktanya, di sistem demokrasi saat ini yang diterapkan hampir di seluruh negeri Muslim tidak pernah terpilih pemimpin yang membela umat Islam dan memperjuangkan hukum Islam. Dalam sistem demokrasi seluruh calon hanya mengumbar janji-janji palsu kepada rakyat, setelah terpilih mereka lupa dalam mengurus kebutuhan rakyatnya bahkan membuat rakyat hidup dalam penderitaan.

Hakikatnya demokrasi-lah sistem yang salah, dengan memberi wewenang penguasanya melalui anggota dewan untuk membuat undang-undang, padahal dalam Islam yang berhak membuat undang-undang adalah Allah. Dalam Islam tugas penguasa adalah melaksanakan hukum buatan Allah secara kaffah tanpa dipilih atau dipilah mana yang menguntungkan atau tidak.

Sehingga hanya dengan sistem Khilafah-lah akan terpilih seorang pemimpin yg memenuhi syarat: muslim, laki-laki , baligh, adil (tidak membedakan rakyatnya apakah Muslim/non-Muslim, kaya/miskin), serta mampu mengurusi urusan umatnya sesuai dengan hukum Allah.

“Seluruh aktivitas aktivitas kita termasuk di dalamnya aktivitas memilih pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah kelak. Mudah-mudahan kita tidak terjebak janji manis pemimpin dalam sistem demokrasi tetapi berupaya bersama di tengah-tengah umat untuk mewujudkan pemimpin yang diridhoi Allah yaitu seorang khalifah melalui sistem kekhilafahan,” katanya.

Sementara, Ustadzah Nurul Izzati menjelaskan solusi tuntas untuk mengatasi semua permasalahan tersebut yaitu kembali kepada Islam. “Kita harus kembali kepada islam secara kaffah,” terangnya.

Di sesi diskusi, berbagai pertanyaan diajukan oleh para peserta di antaranya, “Apakah ikut memilih dalam pilkada termasuk salah satu yang darurat? Kalau tidak, bagaimana seharusnya tugas kita? Kriteri pemimpin yang sesuai dengan islam serta langkah apa yang harus dilakukan jika pemimpin tidak sesuai dengan islam?”

Diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban. Suasana semakin penuh khidmat dan terlihat senyum puas dari para peserta. Bukti serta fakta yang telah dipaparkan oleh para pemateri membuat para peserta semakin yakin untuk berjuang bersama-sama membangkitkan umat dengan menegakkan kembali Khilafah ‘ala minhajin nubuwah.[]

%d blogger menyukai ini: