Taubatan Nasuha: Kesalahan Yang Berimplikasi Uqubat (2)

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas” (TQS. Al A’raaf (7) ayat 80-81)

Sementara untuk kesalahan-kesalahan yang terkategori jarimah (kejahatan) dan berimplikasi adanya sanksi hukum pidana (uqubat), seperti kejahatan zina, homoseksual, pencurian, peminum khamar, pembunuhan, korupsi atau yang semisal dengan itu. Maka bukti taubat seorang hamba yang melakukan kesalahan adalah dengan diterapkan uqubat atas kesalahan yang dilakukannya. Taubatan Nasuha dalam hal seperti ini, selain istigfar, shalat taubat, melakukan amal-amal shaleh, yang terpenting dari itu semua adalah ditegakkan hukum (uqubat) atas kesalahan yang dilakukannya.

Pilar penegakan sanksi hukum (uqubat) yang tegas inilah yang telah menjaga masyarakat Islam sejak awal berdirinya pasca Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah, yang kemudian berlanjut selama -+ 1000 tahun lamanya dibawah kepemimpinan para Khalifah pengganti beliau yang mulia. Sanksi hukum (uqubat) yang tegas selain menimbulkan efek jera sehingga mencegah orang melakukan kejahatan yang sama, juga sebagai pengampun, penebus dosa bagi para pelaku kejahatan ketika sanksi itu ditegakkan atas dirinya.

Dalam kitab Nidzamul Uqubat fiil Islam, Abdurrahman Al Maliki menjelaskan diantara fungsi uqubat dalam Islam adalah sebagai zawajir (pencegah) karena ketegasannya dan jawabir (penebus) karena hukum Allah lah yang dijalankan. Artinya dengan ditegakkan uqubat Islam maka kejahatan diyakini akan dapat diredam, diminimalisis jumlahnya karena setiap orang akan berfikir berulang-ulang untuk melakukan kejahatan. Sementara bagi para pelaku kejahatan yang benar-benar menyesali perbuatannya, ingin bertaubat dan menebus kesalahannya dengan ampunan Allah, uqubat Islam memberikan jaminan sanksi badan yang diterimanya di dunia akan menghapuskan sanksi hukum atas kesalahannya di akhirat kelak.

Dalam sebuah hadist Rasulullah mengingatkan: “Barang siapa diantara kamu melakukan satu kesalahan yang mewajibkan hukuman Had , lalu dipercepatkan hukuman tersebut , maka hukuman Had itu adalah penghapus dosanya. Jika tidak maka urusannya terserah kepada Allah”(HR Imam Bukhari)

Dikisahkan, Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah diriku.”Rasulullah menjawab, “Celakalah kamu! Pulanglah dan mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. ”Kemudian Ma’iz pergi, tak lama kemudian dia kembali lagi sambil berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah diriku. ”Rasulullah menjawab, “Celakalah kamu! Pulanglah dan mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya.” Kemudian Ma’iz pergi, tetapi belum begitu auh dia pergi, dia kembali lagi sambil berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah diriku.” Beliau menjawab sebagaimana jawabannya yang pertama, dan hal itu berulang-ulang sampai empat kal. Pada kali keempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Dari hal apakah kamu harus aku sucikan?” Ma’iz menjawab, “Dari dosa Zina.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat yang ada di sekitar beliau, “Apakah Ma’iz ini mengidap penyakit gila?” Lalu beiau diberitahu bahwa dia tidaklah gila. Beliau bertanya lagi, “Apakah dia habis minum khamr?” Lantas seorang laki-laki langsung berdiri untuk mencium bau mulutnya, namun dia tidak mendapati bau khamr darinya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Betulkah kamu telah berzina?” Ma’iz menjawab, “Ya, benar.” Lantas beliau memerintahkan untuk ditegakkan hukuman rajam atas dirinya, lalu dia pun dirajam.

Dalam permasalahan ini, orang-orang berbeda menjadi dua pendapat, yaitu Ma’iz meninggal dan dosanya terhapuskan karena hukuman itu dijalaninya dengan ikhlas dan yang lain mengatakan bahwa Ma’iz bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, tiada taubat yang melebihi taubatnya Ma’iz. Dia datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tangannya diletakkan di atas yangan beliau kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, rajamlah aku dengan batu.”

Dan mereka senantiasa dalam perbedaan pendapat seperti itu selama dua atau tiga hari. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, setelah memberi salam, beliau duduk bersama-sama dengan mereka, lalu berliau bersabda, “Mintakanlah ampunan bagi Ma’iz bin Malik.” Lalu mereka memohonan ampun untuknya, “Semoga Alllah mengampuni Ma’iz bin Malik.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Ma’iz telah bertaubat dengan sempurna dan sendainya taubat Ma’iz dapat dibagi di antara satu kaum, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua.” (Shahih Muslim, Hadits 3207)

Taubatan Nasuha, bagi para pelaku kejahatan bukan sekadar dengan linangan air mata, atau mengucapkan kata-kata taubat berulang-ulang, tidak cukup juga dengan sekadar istqfar atau shalat taubat. Tetapi pelaku kejahatan yang menghendaki taubat dengan semputna, sebenar-benarnya, Taubat Nasuha, harus berani menghadapi sanksi hukum (uqubat) sebagaimana yang telah Allah tetapkan atas kejahatannya. Atau meminta pada negara untuk menegakkan hukum (uqubat) Islam atas dirinya, atas kejahatan yang telah dilakukannya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (TQS. At Tahriim (66) ayat 8).[]

 

Sumber: www. inspiringalquran.com

%d blogger menyukai ini: