Benarkah Peningkatan Partisipasi Kerja Perempuan Akan Sejahterakan Dunia?

Oleh: dr. Arum Harjanti (Pemerhati Masalah Perempuan, Keluarga dan Generasi)

Cuitan akun twitter @UN_Women pada tanggal 15 Januari 2018 yang lalu  berbunyi “When more women work, economies grow. An increase in female labour force participation results in faster economic growth” (Ketika lebih banyak perempuan bekerja, ekonomi tumbuh.  Peningkatan partisipasi tenaga kerja perempuan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat).

Mereka yakin jika wanita memainkan peran yang sama dengan laki-laki di pasar kerja, akan dapat menambahkan 28 trilliun dolar AS ke produk domestik brutto (PDB) global tahunan pada tahun 2025. Mereka beranggapan Ekonomi akan tumbuh jika makin banyak perempuan yang bekerja karena menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.  Oleh karena itu, dibutuhkan upaya untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja.  Apalagi, saat ini realitas yang terjadi belum sesuai dengan harapan.  Dalam  World Employment and Social Outlook: Trends for Women 2017, yang diterbitkan oleh ILO disebutkan bahwa Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam dunia kerja masih cukup lebar dan tersebar luas.

Kesenjangan ini menjadi salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi masyarakat global.  Partisipasi perempuan dalam pasar kerja baru sekitar 49,4%, lebih rendah 26,7% bila dibandingkan dengan partisipasi laki-laki.  World Employment Social Outlook Trends 2016, menyebutkan bahwa perempuan adalah separuh potensi dunia dan memanfaatkannya membutuhkan akses terhadap pekerjaaan yang layak, gaji berkualitas baik, membutuhkan adanya akses terhadap regulasi dan kebijakan sensitif gender, seperti  cuti orangtua yang memadai dan jam kerja yang fleksibel.

Oleh karena itu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dunia, peningkatan partisipasi kerja perempuan harus ditingkatkan.  Sedemikian pentingnya hal ini, sehingga dalam pertemuan tahunan  the World Economic Forum Annual Meeting 2018, para pemimpin dunia berkumpul di Davos, tanggal 23-26 Januari 2018 yang lalu,  dengan cita-cita mewujudkan  “Shared Future”  yang ditujukan untuk perempuan dan laki-laki.

Hal yang dimaksud adalah memberikan gaji yang sama untuk mengurangi pekerjaan wanita yang tidak dibayar, membuat tempat kerja bebas dari pelecehan seksual dan memberikan akses perempuan terhadap investasi,  serta  ekonomi digital dan ekonomi hijau.  Apalagi kondisi perempuan saat ini dianggap seperti yang dituliskan dalam cuitan akun tersebut pada tangal 30 Januari 2018, dikatakan “Child care Cooking Cleaning Farming… Women do the majority of unpaid work that is essential for households & economies to function, and yet is under-valued.”  (mengasuh anak, memasak, membersihkan rumah, bertani……Perempuan mengerjakan mayoritas pekerjaan yang tidak berbayar yang penting untuk fungsi rumah tangganya dan perekonomiannya, namun tidak dihargai….).

Benarkah demikian? Akankah dunia sejahtera jika makin banyak perempuan yang masuk dalam pasar kerja dan mendapatkan hak yang sama seperti laki-laki?

Dunia sejahtera jika makin banyak perempuan bekerja dan mendapat hak yang sama seperti laki-laki sesungguhnya adalah asumsi. Kenaikan PDB sebesar 28 trilliun dollar Amerika pun hanya ilusi.  Benar bahwa sekarang secara global, masih sedikit perempuan yang bekerja, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki, dengan perbedaan hampir 27%.  Adalah fakta bahwa banyak perempuan yang tidak mendapatkan akses untuk mendapatkan kesempatan pekerjaan yang layak, perempuan bekerja dengan upah yang jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki dan tidak mendapatkan perlindungan sosial yang memadai.  Namun sesungguhnya itu semua bukanlah karena belum terwujudnya kesetaraan gender.  Ketidaksetaraan gender juga bukanlah penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi dunia maupun kehidupan yang belum sejahtera.

Sesungguhnya penyebab dunia belum sejahtera adalah diterapkannya sistem ekonomi kapitalis. Sistem inilah yang menjadikan para pemilik modal sebagai penguasa yang menentukan kebijakan negara, yang menjadikan mekanisme pasar diterapkan pada semua bidang.  Pasar bebas ini menjadikan kesenjangan kekayaan makin lebar karena kebijakan ekonomi yang pro para kapital pemilik modal, dan tidak peduli kepada rakyat yang miskin dan lemah.  Kesejahteraan dalam sistem ini hanya dilihat dari pendapatan per kapita yang tidak menggambarkan bagaimana kondisi riil rakyat individu per individu.  Oleh karena itu, pendapatan per kapita yang tinggi sesungguhnya tidak menggambarkan kesejahteraan individu rakyat.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, kesejahteraan rakyat adalah mimpi karena sistem ini memang tidak berpihak pada rakyat yang miskin dan lemah.   Tenaga kerja hanya dipandang sebagai pekerja yang diperas tenaganya, bukan manusia yang harus hidup layak sebagaimana para kapital. Oleh karena itu, peningkatan partisipasi perempuan dalam lapangan kerja tidak akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi riil individu rakyat, bahkan jika semua perempuan ikut bekerja.

Masuknya perempuan dalam pasar kerja ini hanya menambah eksploitasi atas perempuan karena dianggap sebagai tenaga kerja yang lebih murah upahnya. Dengan upah yang lebih murah, perempuan juga akan menggeser posisi para laki-laki dalam pasar kerja.  Dampaknya adalah  kemandirian perempuan secara finansial, yang bahkan dapat menghantarkan kepada dominasi finansial dalam keluarga.  Tingginya gugat cerai oleh istri yang  terjadi di berbagai daerah adalah harga yang harus dibayar para suami dan keluarga.

Peningkatan partisipasi perempuan dalam kerangka sistem ekonomi kapitalis, justru akan membawa berbagai masalah dalam kehidupan.  Dalam sistem ini, selain laki-laki,  perempuan ikut dijadikan sebagai tulang punggung nafkah keluarga.  Maka perempuan akan mendapatkan beban ganda, karena selain sebagai istri dan pengurus keluarga, perempuan juga sebagai pencari nafkah.

Peran perempuan sebagai pencari nafkah akan lebih diutamakan daripada sebagai istri dan pengurus keluarga, karena kekurangan finansial lebih dirasakan secara nyata dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.  Akibatnya keluarga termasuk anak akan lebih terabaikan dan kurang mendapat perhatian serta kasih sayang.  Kondisi ini mengancam keutuhan rumah tangga, bahkan mengakibatkan perceraian.  . Kesibukan ibu sebagai pencari nafkah juga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan generasi, sehingga muncul berbagai permasalahan anak seperti keterlibatan anak dalam narkoba, pergaulan bebas, tawuran dan kriminalitas, bahkan mengakibatkan anak menjadi korban kekerasan seksual.

Dengan demikian, jika ingin menjadikan dunia sejahtera individu per individu, tinggalkanlah sistem kapitalis yang menghilangkan peran negara dan abai terhadap rakyatnya.  Segeralah beralih kepada sistem Islam, karena  Islam adalah aturan hidup yang sempurna dan menyeluruh yang diturunkan oleh Allah SWT.  Islam mewajibkan negara untuk menjamin kesejahteraan individu rakyatnya, baik laki-laki maupun perempuan.   Islam mewajibkan laki-laki sebagai pencari nafkah untuk keluarga dan menyantuni rakyatnya yang lemah dan memiliki keterbatasan untuk mencari nafkah.

Islam memiliki berbagai mekanisme untuk menjamin kehidupan rakyatnya dalam kesejahteraan dengan sistem ekonomi Islam.  Negara harus bertanggung jawab atas distribusi kekayaan kepada semua rakyat dan memastikan kebutuhan individu per individu terpenuhi.  Dan meskipun perempuan boleh bekerja, namun Islam menentukan peran utama perempuan sebagai istri dan pengurus keluarga serta pendidik generasi, bukan sebagai penanggung nafkah.

Meskipun Islam membedakan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam keluarga, sebagai manusia keduanya memiliki posisi yang sama di hadapan Allah. Karena itu, penerapan Sistem ekonomi Islam akan dapat menjamin kesejahteraan rakyat, dan tentu saja pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Dan karena manusia membutuhkan keberkahan hidup tidak hanya dunia saja, namun juga akherat, maka penerapan sistem Islam haruslah bersifat menyeluruh dan total.  Bukan hanya sistem ekonominya saja, namun sistem kehidupan yang lain, seperti pendidikan, kesehatan, pergaulan, peradilan dan sanksi, bahkan politik dan negara pun harus diterapkan sesuai dengan aturan Islam.  Karena itu penerapan aturan Islam secara kaffah adalah kebutuhan dan juga satu keniscayaan jika ingin sejahtera.  Allah SWT telah berjanji dalam QS Al A’raf ayat 96, yang artinya “ Kalau seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, maka pastilah akan Kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi……[]

%d blogger menyukai ini: