Taubatan Nasuha: Kasalahan yang Tidak Berimplikasi Uqubat (1)

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ –

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ –

 

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahuiMereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.. ” (TQS. Ali Imraan (3) ayat 135-136)

Doa ini biasa kita panjatkan kehadiran Allah dalam shalat taubat: ”Alloohumma innii astaghfiruka min kulli dzambin tubtu ilaika minhu tsumma ‘udtu fiih, wa astaghfiruka minkulli maa wa’adtuka bihii minnafsii tsumma lam uufi laka bih, wa astaghfiruka minkulli ‘amalin arodtu bihii wajhakal kariimi fakhoolathohuu ghoiruk, wa astaghfiruka min kulli ni’matin an’amta bihaa ‘alayya fasta’antu bihaa ‘alaa ma’shiyatik, wa astaghfiruka yaa ‘aalimal ghoibi wasysyahaadati minkulli dzambin ataituhuu fii dhiyaain nahaari wasawaadillaili fii mala-in wakhola-in wasirrin wa’alaa niyatin yaa haliim”

Yang artinya: “Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu dari semua dosa yang telah aku pintakan tobatnya kepada-Mu tapi aku mengulangi kembali melakukannya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari semua janji yang telah kuikrarkan kepada-Mu tetapi tidak kutepati; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari semua amal yang semula kuperuntukkan bagi-Mu Yang Mulia tetapi lalu dicampuri oleh selain-Mu; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari semua nikmat yang telah Engkau curahkan kepadaku lalu aku pergunakan untuk berdurhaka kepada-Mu; dan aku memohon ampun kepada-Mu ya Allah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata dari semua dosa yang telah kuperbuat disiang hari ataupun di kegelapan malam, ditempat ramai atau di tempat sunyi, secara tersembunyi atau terang-terangan, wahai Dzat Yang Maha Penyantun”

Orang-orang yang bertaubat dengan taubatan nasuha atas dosa-dosa dari kesalahannya yang tidak berimplikasi uqubat, adalah; Orang yang menyadari kesalahan yang dilakukannya, lalu beristigfar kepada Allah, tidak mengulang-ulang kesalahan yang pernah dilakukannya, memperbanyak amal shaleh untuk menutupi kesalahannya di masa lalu dan mengambil jalan dakwah sebagaimana yang dilakukan para sahabat Rasulullah serta shalafus shaleh. Maka Allah akan memberikan ampunan, menutupkan aib-aibnya dimasa lalu serta menggantikan kesalahan-kesalahannya dengan pahala kebaikan yang berlimpah serta kenikmatan jannah.

Dosa karena berbohong, bergunjing, melihat aurat lawan jenis, menyakiti hati dengan perbuatan dan perkataan, atau kesalahan yang semisal yang dilakukan seorang muslim meskipun tidak berimplikasi sanksi uqubat, tetap saja berbuah dosa dan membawa konsekuensi adanya hukuman (iqab) dari Allah berupa bencana, kesulitan, kegelisahan hidup di dunia, dan yang pasti mendatangkan siksa di akhirat kelak. Semua kesalahan seperti ini hanya bisa ditebus dengan permintaan maaf kepada manusia dan taubatan nasuha di hadapan Allah SWT.

Karenanya hubungkan kembali tali ukhuwah, silaturahim dengan orang-orang yang pernah dekat dengan kita, minta maaf atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Sertai dengan banyak bermunajat kepada Allah, memohon ampun atas setiap kesalahan yang pernah kita perbuat.  Tambahkan pula dengan amal shaleh, amal kebajikan yang insyaAllah akan menghapuskan dosa-dosa kita dan menggantikannya dengan pahala amal shaleh dan barakah dari Allah. Sebagai bukti taubat kita dihadapan Allah.

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”.
[HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]

 

Sumber: www. inspiringalquran.com

%d blogger menyukai ini: