Salah Ketuk Palu

Oleh: 

“MK tolak kriminalisasi LGBT dan hubungan di luar nikah” BBCINDONESIA.COM (14/12). Headline ini menjadi viral di lini media masa.

Asumsinya, jika dua aktivitas tersebut tidak boleh dikriminalisasikan artinya dilegalkan. Berbagai respon merebak. Kekhawatiran akan nasib generasi dan negeri, terlihat mendominasi.

Kecemasan, takut terkena Azab Illahi, juga wira-wiri di beranda FB. Tapi, ada pula yang mensyukuri. Merasa dianugrahi angin segar, bisa bebas mereguk manisnya warna-warni syahwat tanpa perlu sungkan untuk mekar. Tampaknya, bangsa kita tengah diuji. Masihkah tersisa nalar-nalar sehat di negeri ini?

/Kebebasan, Ancaman yang Mengerikan/

Gaya hidup bebas atau liberal bukanlah produk asli Indonesia. Liberalisme adalah life style yang berasal dari barat. Sebuah negara, yang kita ketahui begitu kering kadar keimanannya. Tuhan hanya dipandang sebagai Pencipta. Tuhan tidak boleh ikut campur dalam urusan kehidupan dunia. Tuhan, cukup standby di tempat-tempat peribadatan saja.

Begitulah cara Barat memandang tentang keimanan, tentang ketuhanan. Wajar jika kemudian gaya hidup yang berkembang menghamba pada kebebasan.

Tidak dipungkiri, negeri Barat saat ini adalah pusat peradaban. Kiblatnya dunia dalam berbagai aspek kehidupan. Kecanggihan sains dan teknologi melesat pesat seolah tiada aral yang menghambat. Gedung-gedung megah menjulang gagah, membuat siapa saja terperangah.

Singkatnya, Barat menjadi simbol kebanggaan dari berbagai sisi bagi dunia saat ini. ”Sesuatu yang kebarat-baratan itu keren”, begitulah kira-kira.

Termasuk Indonesia yang entah berapa kali wira-wiri keluar negeri, mengadopsi berbagai kebijakan ’ala Barat’ untuk dilakoni.

Hanya saja, ada yang luput dari mata dunia. Di balik melesat pesatnya sains dan teknologi serta menjulangnya kemegahan gedung-gedung di dunia Barat, menyisakan rongsokan peradaban yang mengerikan.

Tingginya angka amoral, kriminalitas, depresi, serta individualisme merupakan sebagian sisi lain dari rapuhnya bangunan sosial yang ada di barat. Coba kita ingat, berapa sering terjadi penembakan membabi buta di ruang public bahkan sekolah?

Berapa banyak remaja yang terlibat free sex hingga menjadi penyumbang meningkatnya angka HIV/AIDS?

Berapa jumlah warga negaranya yang depresi dan berakhir bunuh diri?

Demikian pula LGBT dan hubungan di luar pernikahan, bukan hal yang tabu untuk dipraktekkan meski terbukti menebar kehancuran dalam sendi-sendi kehidupan.

Inilah konsekuensi real dari sebuah jargon kebebasan. Syahwat untuk mereguk kenikmatan dunia adalah obsesinya, harus didapatkan bagaimanapun caranya.

Terbukti, nyatanya kebebasan adalah ancaman yang begitu mengerikan. Tidak memanusiakan manusia. Naudzubillah!

/Salah Ketuk Palu/

Di tengah krisis sosial yang melanda negeri Barat dengan jargon kebebasannya, Bangsa kita pula hendak menjajal ’kebebasan’ tersebut.

Bukannya membuat benteng bagi masyarakat dari segala ’kenakalan’ liberalisme, pemerintah malah memperlebar pintu yang ada untuk memberi akses masuknya paham yang jelas-jelas membawa kerusakan.

Ya, dalam hal ini Mahkamah Konstitusi (MK) mengetuk palu perlindungan bagi pelaku LGBT dan hubungan di luar nikah.

Jika sebelum dilindungi saja perilaku rusak dan merusak ini sudah merajalela, bagaimana jadinya setelah ada payung pelindung atas mereka?

Masyarakat yang biasanya menjadi benteng atas paham bablas inipun tidak akan mampu lagi membendungnya.

Jangan heran, jika akan semakin tinggi angka perceraian akibat perselingkuhan. Semakin banyaknya bayi-bayi dibuang, dibunuh, bahkan dimutilasi karena hasil perzinahan. Semakin meningkat pula jumlah penderita HIV/AIDS dan penyakit kelamin yang mengerikan lainnya.

Tragisnya, negeri ini bisa sampai pada titik lost generation. Naudzubillah!

Benarlah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala peringatkan:

”Dan janganlah kamu mendekati zina. (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Isra’: 32)

Dan ( kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, ”Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al-A’raf: 80-81)

Lantas bagaimana kesudahan dari kaum yang keji dan melampaui batas tersebut?

Masyaallah, inilah Al-Quran Kalamallah yang menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa:

”Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (TQS. Al-A’raf: 84)

Astagfirullah, tentu kita tidak ingin memperoleh kesudahan yang demikian di dunia, terlebih lagi di akhirat.

Bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, adalah cara terbaik bagi kita untuk peroleh keselamatan. Bukan hanya di dunia, tapi hingga akhirat. Pun bukan hanya diri dan keluarga kita saja, namun juga bagi bangsa kita tercinta. Agar bangsa ini menjadi Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Bangsa yang baik dan memperoleh ampunan Allah Swt.

Sebagai sebuah bangsa yang dikenal dengan budaya ketimurannya, narasi liberalisme seharusnya tidak perlu ada. Mengingat, budaya timur itu sangat menjunjung nilai-nilai religius yang memanusiakan manusia.

Batas kesopanan, kesantunan, ataupun kebaikan mutlak bersandar pada terminologi agama. Agama tidak boleh terpisah dari kehidupan. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, sudah sewajarnya pula meyakini Tuhan dalam hal ini Allah Swt sebagai pencipta sekaligus pengatur kehidupan, itulah sebenar-benarnya ketakwaan.

Maka, tidak boleh ada kebebasan secara mutlak ’ala Barat’ dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Demi menjaga martabat manusia.

Sejalan dengan itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah mengeluarkan fatwa pada tahun 2005 bahwa haram hukumnya paham pluralisme, sekulerisme, termasuk juga liberalisme.

Mari menjadi manusia yang mau mengambil pelajaran, jangan sampai kita terjerumus dalam kelengahan.

”Dan sungguh akan kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk ( memahami ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (TQS. Al-A’raf: 179)

Semoga, ketukan palu hakim MK yang sedang viral ini adalah sebuah kesalahan saja.

Mengingat, memang bukan TUPOKSI-nya MK untuk membuat atau merubah sebuah hukum. Dalam hal ini, tentu masyarakat berharap bahwa akan ada pertimbangan dan diskusi-diskusi dari jajaran pemerintah, untuk menindak lanjuti kesalahan ketuk palu ini. Sehingga menghasilkan PERPPU tentang pelarangan bahkan pengharaman pada aktifitas LGBT dan hubungan di luar nikah tersebut.

Karena inilah sesungguhnya yang menjadi keresahan di tengah masyarakat luas, serta ancaman nyata bagi Bangsa kita.

Lebih dari itu semua, semoga peristiwa ini menyadarkan seluruh lapisan Bangsa. Bahwa benarlah adanya, hidup dengan mengabaikan petunjuk dari-Nya adalah bencana.

Setelah ini, semoga kesadaran untuk berhukum hanya dengan syariat-Nya menjadi pilihan kita bersama. Wallahu a’lam []

%d blogger menyukai ini: