Kaum Ibu Tersandera Kapitalisme

Oleh: Hana Annisa Afriliani (Penulis Buku & Pemerhati Generasi)

Betapa istimewanya seorang ibu. Islam mengangkat tinggi derajatnya bahkan mengumpamakan surga di bawah telapak kakinya. Jelas itu membuktikan bahwa kaum Ibu sangat dimuliakan dalam Islam. Dunia pun menghargainya. Buktinya di Indonesia setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Namun faktanya sudahkah kaum ibu hidup bahagia di atas fitrahnya?

Sungguh dapat kita saksikan hari ini, kaum ibu tersandera oleh sistem kapitalisme. Fitrahnya tercerabut hampir tak bersisa. Padahal Allah telah ciptakan wanita dengan fitrahnya sebagai seorang ibu. Dengannya ia dibebankan amanah langit, yakni menjadi pengatur atas rumah tangganya dan madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya.

Namun, faktanya sistem kapitalisme telah menyeret kaum ibu untuk berlomba-lomba meninggalkan rumahnya demi turut menopang ekonomi keluarga.

Himpitan ekonomi yang semakin menjepit menjadikan kaum ibu terpaksa atau bahkan dipaksa untuk bergelut dengan dunia kerja. Suami pun terpaksa mengizinkan bahkan ada juga yang mendorongnya. Alasannya, tidak cukup kalau hanya suami yang bekerja. Wajar, sebab kapitalisme telah secara sistemik memiskinkan keluarga.

Privatisasi yang dilegislasi menjadikan SDA dikuasai swasta dan asing. Padahal dalam UUD 1945 pasal 33 telah dinyatakan bahwa ”Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Sangat jelas, bahwa aset-aset yang mengusai hajat hidup orang banyak wajib dikuasai oleh negara.

Dalam pandangan Islam pun hal tersebut tidak dibenarkan bahkan diharamkan. Hadist Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya dia (Abyadl bin Hammâl) mendatangi Rasulullah saw, dan meminta beliau saw agar memberikan tambang garam kepadanya. Ibnu al-Mutawakkil berkata,”Yakni tambang garam yang ada di daerah Ma’rib.” Nabi saw pun memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyadl bin Hammâl)”. (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Menjual aset-aset publik kepada swasta dan asing sama saja merampas hak rakyat. Sebab sejatinya SDA wajib dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Namun realitanya, di sistem kapitalisme saat ini, segala sesuatu dijadikan komoditas bisnis, termasuk hak publik. Akhirnya harga-harga tidak stabil, bahkan dapat terus melonjak naik. Negara hanya sebagai regulator.

Kapitalisme juga menciptakan jerat hutang negara yang tak berkesudahan. Jumlah utang luar negeri (ULN) pemerintah pusat terus bertambah. Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), jumlah utang pemerintah di akhir 2014 tercatat Rp 2.604,93 triliun. Dan hingga akhir Mei 2017 lalu, jumlah total utang luar negeri Indonesia mencapai Rp 3.672,33 triliun. (Kompas.com/17-08-2017)

Akhirnya rakyat kena imbasnya. Per kepala rakyat Indonesia menanggung beban hutang sebesar .US$ 997 atau sekitar 13 juta rupiah.

Sebagai salah satu solusi, negara memungut pajak dari semua lini kehidupan rakyat. Akhirnya keluarga muslim kena imbasnya. Pengeluaran membengkak sementara pemasukan stagnan. Dan dampak terbesar juga tentu dirasakan kaum ibu. Mengapa? Karena mereka lah yang sehari-hari berkutat dengan belanja dan aneka pembiayaan, ditambah membayar pajak ini-itu. Kaum ibu tercekik, kaum ibu tersandera kapitalisme. Akhirnya meski berat kaki melangkah, ia harus lakukan juga, bergulat di dunia kerja dengan sederet kesepakatan yang merampas kewajiban utamanya di rumahnya.

Akhirnya peran ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya tak terjalankan dengan optimal. Semuanya diserahkan kepada guru. Kedekatan psikologis dengan anak pun kering.

Akhirnya muncullah generasi bermasalah akibat kurang asuh dan asih. Pergaulan bebas, narkoba, tawuran, merupakan dampak dari terciptanya jurang pemisah antara ibu dan anak. Selain sebab lainnya, seperti lemahnya pendidikan agama dan ketiadaan penjagaan dari masyarakat dan negara.

Maka sungguh hanya sistem Islam yang mampu membebaskan kaum ibu dari keterpurukan. Bekerja bagi seorang wanita dalam pandangan Islam adalah mubah, sementara dalam sistem kapitalisme seolah menjadi wajib. Islam menjamin kesejahteraan kaum wanita. Apabila ia tidak memiliki suami, maka wali atau saudara laki-lakinya yang berkewajiban menanggung nafkahnya. Sampai-sampai negara akan menanggungnya jika memang tidak ada seorang pun yang dapat menanggungnya. Artinya, dalam Islam kaum ibu begitu dimuliakan dan ditempatkan sesuai kodratnya.

Islam menjamin agar kaum ibu benar-benar dapat menjalankan tugas utama dirumahnya, sebagai wujud ketaatan kepada Rabbnya. Bahkan Islam juga memerintahkan kaum ibu untuk menimba sebanyak-banyaknya tsaqofah Islam sebagai bekal dalam mendidik anak-anaknya serta bekal menjalani hidup yang Allah ridhoi.

Tak hanya itu, kaum ibu juga didorong untuk berkiprah dalam penyebaran dakwah Islam sebagaimana halnya laki-laki. Karena sejatinya dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dakwah adalah wujud kepedulian terhadap problematika umat termasuk problem yang menjerat kaum ibu. Oleh karena itu, aktivitas dakwah dalam rangka menegakkan institusi politik Islam merupakan upaya untuk membebaskan kaum ibu dari belenggu Kapitalisme

Hanya dengan penerapan syariat Islam kaffah, belenggu kapitalisme terhadap kaum ibu dapat dilepaskan. Sedangkan syariat Islam kaffah hanya mungkin dilakukan dalam institusi politik Islam, bukan institusi kapitalisme sekuler seperti saat ini.[]